Kamis, 10 Juni 2010

kisah

pernah merasakan cinta,,,,,
tapi y biasa kandas di tengah jalan
adakah manusia yang benar-benar sempurna mencitai ku
mencintai ku lahir dan batin,,,,,
aku slalu menunggunya,,,,,
sampai akhir nanti

Rabu, 19 Mei 2010

aku suka

aku suka melakukan hal-hal yang baru
hal yang belum aku lakukan sebelunya
dan bagiku sungguh menyenangkan
selain mendapat pengalaman baru
juga menantang.........
tapi tetap haru inget waktu dan tujuan....
jangan sampai melupakan kewajiban....

KEMAH BUDAYA

pengalaman 4 hari di jogja
sungguh menyenangkan
disana kemah budaya......
wuih..banyak temen dari daerah lain...
seneng.......berbagi pengalaman....
berbagi,,,logat bahasa....

Selasa, 18 Mei 2010

syair bahagia

ku tulis dengan nama tuhan ku
bismilah.......dan jadilah
kata yang indah
menjelma menjadi kalimat
penuh makna

tuhan ku.........
tuhan ku.........
aku berseru
karena bahagia
dengan puisi-puisi ini
hingga aku setia
pada setiap detiknya

aku jadikan dia
seperti kekasih
seperti engkau
menganggap ku
dan kami sering bercumbu
seperti aku
dalam sembayang
khidmad...
dan khusyu

jika aku marah

aku datang dengan
wajah baru
puisi dan gelora
yang baru pula
puisi-puisi lama
telah ku hapus
semua.....
beserta sumber inspirasinya

dengarkan aku
siapapun boleh
bermain dengan ku
dengan cara apa pun
sesuka mu
tapi jangan sekali-kali
usik prinsip ku
jika itu terjadi
kau kan lihat
kemarahan ku

dan aku yakin
kau takan suka
jika aku marah.....

puisi - puisi ku

puisi-puisi ku
adalah do'a
dan bagi para
pemiliknya
akan di jaga
sepasang malaikat
pelindung baginya
aku hanya menghendaki
jiwa-jiwa yang
benar-benar bersih
boleh menyentuhnya
agar puisi ku
terjaga dari
noda....

puisi ku mengandung magis
tercipta dari sosok ku
yang lain

bila hendak membacanya
usahakan dahulukan
kalimat basmalah
dan di akhiri
dengan amin
niscaya tuhan ku
merahmati mu
dengan kasih sayang -Nya
yang kekal
amin........

Chord & Lirik Lagu Astrid – Tak Bisa Kembali

Reff :
D G
Aku tak bisa kembali lagi
Em A
Kita telah terpisah selamanya
D G
Aku ingin kau bisa mengerti
Em A Bm A
Cinta ku selalu hadir hidup dihatimu sampai nanti

D G Em A
Tak kusadari semua ini telah berlalu
D G A
Kau Mencintai aku sepenuh hatimu
Em A D G
Kini ku tak bisa lagi berada dekat denganmu
Em A D A
Penyesalan kini sudah tak berarti

Balik ke Reff
*courtesy of Chordlaguindonesia.com
D G Em A
Andai semua dapat terulang kembali
D G A
Kan ku terima cintamu sepenuh hati
Em A
Tak ku sangka kan terjadi
D G
Semua harus berakhir
Em A D A
Kepergian ku tinggalkan semua ini

Balik ke Reff
Aku tak bisa kembali lagi
F#m B
Kita telah terpisah selamanya
E A
Aku ingin kau bisa mengerti
F#m B C#m B E
Cinta ku selalu hadir hidup dihatimu sampai nanti

Minggu, 16 Mei 2010

KATA CIPTA

yang mula adalah kata,
tapi kata harus kedengaran,
senyap harus di pecahkan,
kata harus di ucapkan,
sebelum malam gemerlapan
larut masuk cahaya terang

sebelum dasar gurun pasir
menampilkan kepala mawar
kata harus duluan terdengar

sebelum hawa di ceraikan
dari luka rusuk adam
bunyi kata harus kedengaran

karena kebenaran tahan uji
paling utama dewasa ini
tinggal katanya
di ucapkan sekali lagi.....

SUARA DALAM DIRI

suara apa
yang bicara
dalam diri,
membimbing ku
kearah
yang lebih baik

surga rawa biru
yang indah
disini awal mula
yang baik untuk
diri ku

suara itu terus
membimbing ku
hingga ku berkata
inikah nirwana

SIAPA ENGKAU

ketika pertama
melihatnya
hidupnya seperti
sudah berakhir

tapi kehilangan
orang yang di cintai
membuat aku paham
kehilangannya....

waktu berlalu
dan dia tak bicara
sepatah kata pun

"siapa kau,
apa yang kau impikan"
tanya ku
dan dia tetap saja bungkam

aku menyentuhnya
tanpa tahu siapa
namanya

Jumat, 14 Mei 2010

cinta pertama

pernah punya pacar super cemburu
ih sebel....tapi dia setia
lita berpisah karena dia
nganjutin kuliah di kota lain
pertamanya sih
dia sering nghubungin aku
tapi lama-lama dia
ga pernah kontek aku
dan kisah cintaku
berakhir

masa remaja

sekarang aku dah dewasa
sudah menginjak masa remaja
sekarang aku sekolah smk di kota ku
dan disana banyak cerita dari yang indah sampe nyebelin
masa-masa ini jangan lah terlewati

kelahiran

berawal dari kisah kelahiran ku yang tak indah
aku tak pernah di ingginkan dalam keluarga ku
aku sangat sedih
tapi aku tetap tabah
dan coba hadapi semua ini denagan ikhlas

Senin, 10 Mei 2010

DI SUATU TEMPAT

di suatu tempat,
entah di mana,
di dunia

seseorang menunggu mu,
berdo'a
seperti do'a
yang biasa
kau ucapkan
sehabis salat

pada suatu saat,
entah pabila,
di dunia
seorang merindukan mu,
slalu terjaga
seperti malam-malam mu
yang berlalu
sangat lambat

seseorang menunggu,
terjaga dan ber do'a
di suatu tempat,
pada setiap saat :
seperti aku

selalu....

BICARA DALAM DIAM

langit dan laut
bicara dalam diam

kapal dan ombak
bicara dalam diam

pantai dan darat
bicara dalam diam

angin dan bukit
bicara dalam diam

karang dan siput
bicara dalam diam

keheningan penuh
makna adalah
kita yang bicara
dalam diam

DI MANA AKAN BERLABUH

nasib bagaikan
sihir gaib
berkelebat-kelebat
menuntun ku
mengedari bumi

kapal ku sejak
mengangkat sauh
tak tau dimana
akan berlabuh

hati yang tegar !
dari mana
kau hirup
semangat begitu tinggi
dalam hidup


kapal ku sejak
mengangkat sauh
tak tau dimana
akan berlabuh

bolehkah aku
singgah di
dermaga mu

JERITKAN SAJA

gelombang-gelombang
di dada mu
jeritkan saja !

sekarang
di tempat ini

agar tak
menggulung-gulung
menghantam-hantam
tubuh mu

meretakan jiwa mu

MAUT MENDEKAT KU RASA

maut mendekat
ku rasa
dan diri ku
begitu jauh dari mu,
tuhan,
aku begitu
terpikat
oleh serba dunia
tegur daku,
agar diam dan patuh
pimpinlah langkah ku
yang masih enggan
kepadang
embun mu yang rupawan.

KEPADA TUHAN KU

yang tak bisaku lawan
ialah cinta mu
yang tak pernah
luntur kepada ku

di mana pun engkau
senantiasa menggoda,
kepada siapa pun
engkau tulus
dan setia

waktu aku mendekati mu
atau waktu aku berusaha
melupakan mu

engkau membanting ku
dengan keklnay kasih
sayang mu

sekarang bagai manakah
hidup ini harus aku
pelihara

sebab cinta ku
pada mu
tak bisa melebihi
u pada ku

TAK PERNAH KU LIHAT PADANG

tak pernah ku
lihat padang
tak pernah ku
lihat lautan

namun ku kenal
puncak menjulang
dan tahu
makna gelombang

tak pernah ku
sapa tuhan
maupun berkunjung
ke surga

namun letaknya dapat
dapat ku pastikan
seakan tertera di peta

AKU SERING ENGGAN

aku sering enggan
ikut ramai-ramai
sembayang
sebab sehabis
mengucapkan akhir salam
orang-orang
bergegas pulang

tidak ada suasana
pergaulan dengan tuhan
tidak ada kesan
bahwa kemasjid
ialah bertemu
dan bersujud

aku sering enggan
ikut ramai-ramai
sembayang
sebab ia menjadi
satu-satunya ukuran
baik buruk
dan iman seseorang

SEBUAH PARABEL

orang-orang mendaki gunung,
memahat batu
dan pulang senja hari;

orang-orang berlayar di laut,
menangkap ikan
dan pulang sehabis badai;

orang-orang berangkat kehutan,
menebang kayu
dan pulang dengan beban yang berat;

dan sat ku masuki
hati mu
memadu rasa
tak pernah terfikir tuk kembali pulang...

Selasa, 04 Mei 2010

TAKUT PADA MATA MU

kekaguman ku
kepada tuhan
membuat aku takut
pada mata mu.
apa engkau sendiri
mengerti
kekasih ku
apa gerangan
yang memancar
dari mata mu

bertahun-tahun
kita hanya
berpandangan saja
engkau bisu,
aku tuli
karena sangat tidak mengerti

bola mata mu yang bening
adalah ruang yang tiada terbatas
tapi jika
pun engkau
kelak menjadi
wanita ku
akan bisakah ku masuki
ruang itu.....?

BILA KAU LUPA

bila teman kau lupakan
jika kau jenguk pujangga
dan roh yang gaib
kau anggap remeh
dan biasa,

tuhan lah yang mengampuni
tapi jangan sekali-kali
kau usik
kedamaian ku....
kau takan senang
jika aku marah

KENANG DAKU DI DALAM DO'A MU

kenang daku di dalam
do'a mu
do'a ada hikmahnya
meluncur datang seperti
cahaya
lintas malam kita

do'a adalah pikiran
di resapi mesra,
di padu dalam iman
murni lembut

damainya lembut-mengharu
menawar sepinya perih:

kenang daku di dalam do'a mu
agar sembuh aku kembali

TANYA KU

sinar mata masih seperti dulu
saat pertama kita ber sua
tapi perbedaan seperti sepasi yang sangat jauh
ku harap kau akan rasakan apa yang tlah terjadi

di tempa ini ku utarakan rasa yang tak pernah terjawab slamanya

dengarlah aku....
dengarlah...
wanita wilayah barat
jarak bukan lah apa-apa bagi ku
tapi kebekuan mu
membuat pertahanan ini semakin rapuh

dengar hati mu dan jawablah
semua tanya ku....

PADANG LAUT KERTAS

padang laut kertas
taburi kata
yang kini tiada arti
ku teguk air
pecahan dua dunia
lambang - lambang
kota segsara

anggaplah tangan ini mengepal
ludahi jiwa yang cela
hati mu kini binasa
jika kamu tak jua pergi

lepaskanlah beban
kemanusiaan ku
yamh kau taruh di pundak ku
lupakan perjalanan ini
lupakan kebersamaan
lupakan aku.....

ALASAN KU

ku suka suara mu
terdengar khas
di telinga

setiap engkau bicara
aku kan tau
bibir siapa
yang sedang
melantunkan kata

dan rasanya ingin
tiap kata diulang
seribu kali
begitu merdu bagi ku

ku suka marah mu
ku harap hanya untuk ku
karena wajah ayu mu
akan berpijar merah
dan ku rasa
begitu indah
di mata

itulah alaan ku
mengapa slalu
ku kagumi dirimu
wanita wilayah barat

TENTANG HIDUP

ku ucapkan salam
pada ahli masa depan

di hari rabu ini
ku dengar jawabnya
berdengug tiga kali
ya aku dengar

kegilaan ku tlahmenuntun ku
sampai kejalan kegilaan ini
tapi aku harus tetap was-was
pada hidup yang slalu buas
dan jalan selalu berliku
apapun yang akan ku tuju hari ini
hari esok beda lagi

tak ada jaminan dalam hidup
tapi mati itu ada
yang menjaminya
walau kita belum siap
melepas beban
yang memberatkan
kita cinta dunia
hanyalah yang punyatuhan yang kan abadi
Allah sematalalah padanya
yang slalu ku tunggu janjinya
dan Ia satu-satunya yang tak pernah inkar

KATA

kata terbang
lewat udara
hinggap di
rongga telinga
di resapi penuh makna
siapakah yang bicara
begitu merdu
hingga diri ini
inggin mendengar
kata itu terulang kembali

kata keluar
dari bibir
bergetar tak berwarna
sekali lagi ku dengar kata
yang indahnya tak terkira
lantas aku tahu
ya benar,
itu suara mu

ku dengar
dengan kidmat
tiap kalimatnya
hingga hilang amarah
yang harusnya tertumpah

BAGI KU

menginggat mu
bagai di tampar
angin dari gurun
yang terbang
bersama debu
sakitnya sungguh
sanggat
tak kasat mata
memang
tapi lihat
rongga dada ini
remuk redam

pernah kau
hina aku
dan aku terpaksa
menerima dengan
tanggan terbuka
karna begitu lemahnya aku
lantas aku
tak membalas
dengan hinaan yang sam
tapi slalu
ku harumkan
tiap bibir ini menyebut mu

bila aku tak bisa
buat engkau
mencinta
seperti yang ku idamkan
mungkin
tuk membuat mu benci
lebih mudah
dari pada itu
dan itu sanggat berarti
bagi ku....

MAUT

apa hal yang paling menakutkan
dari maut
mungkin bila hanya hal
sepele
keluarnya ruh dari jasad
mungkia takan terlalu ku cemaskan

tapi karena maut
istri-istri menjadi janda
dan para suami menjadi duda
dan seorang anak menjadi yatim

keluarga yang saling menyayangi
berceray beray
dalam lubang yang berbeda

tali-tali cinta putus karenanya

para pembunuh terbunuh
para pencuri di curi hidupnya
dan bagi pendosa di tutup
jalan tobatnya

MAKAN DAN MINUM

aku bosan makan dan minum
tidur dan bangun
rasa lapar yang ada sejak
aku lahir tak juga hilang
padahal telah berkali-kali aku makan

padahal aku tahu apa yang
aku makan hakekatnya akan menjadi kotoran
yang takaan aku bicarakan setelah hari ini

mengapa aku harus makan dan minum
apalgi dewasa ini
lapar dan haus tak kenal halal
dan haram
teman atau pun saudara

aku tidak sedang membicarakan
tentang para koruptor
atau [pun para pendosa lainnya
aku trlalu takut
sajak ku
menjadi najis
atas dosa yang mereka perbuat
yang rela berbuat apa pun
demi makan dan minum

pantas jika aku berkata
" mereka itu lebih hina dan kotor
dari pada kotoran kita"

AWAL ATAU AKHIR

bisakah aku menulis lagi
setelah semua ini
perjalanan yang tak indah ini

mungkin ini bisa menjadi
awal kisah pena ku yang baru
ataumungkin akhir dari
goresan-goresan indah
yang pernah ku cipta

slalu ada saja dua
pilihan yang membingungkan
sedangkan aku
sekarang sendiri

ANTARA MADINAH DAN MASJID NABAWI

rosul hijrah
ke madinah
di sambut dengan cinta
oleh penduduk madinah

disana rosul membangun
masjid nabawi dengan
cinta pula

madinah dan masjid
nabawi adalah lambang
cinta
yang murni

dan di dekat mu
seakan berada
di keduanya

antara madinah
dan
masjid nabawi

DENGAN KATA

dengan kata lautan
langit,bumi dan semesta
tercipta
"jadilah"

dengan kata
masuklah ruh adam
menjelmalah menjadi
mahluk yang mulia
"hidup"

dengan kata
tuhan ku mengatur
segala
"dengan nama KU"

dengan kata
ku lafaskan do'a
dan permohonan
ampun kepada -NYA
" ya rob"

dangan kata
ku tebarkan salam
dan saling tegur sapa
" salam sejah tera"

dengan kata
kucoba ikat
tali insani
"aku cinta"

kepada wanita
wilayah barat
"aku menyimpan tanya"

SEMANGAT GELORA ENGKAU DI MANA

mungkin dengan meminum
segelas air ini
akan bisa menghapus dahaga
yang ku derita
dan duduk di tanah laku
kan buat ku kuat
bisa mengarungi
perjalannan hidup ku nanti

tapi ini ternyata
bukan apa-apa
aku tetap saja lelah
walau aku sudah
tidur seharian
aku tetap haus dan lapar
meski tlah aku makan dan minum
apa pun yang aku temui

semanggat gelora dada ku
engkau di mana
aku butuh kau sebagai
pemicu grak langkah ku

mungkin dengan satu terikan
lantang mu
aku akan bangkit
dan bila kau memekik satu kali lagi
aku pasti bisa berlari

bisikan lah pada ku
wanita ku
kata semangat yang slalu ku tunggu

TAPI AKU BUKAN

aku teman atas setiap alam
nikmati setiap ke indahan

aku anak dari ibu ku
yang mengandung ku 9 bulan

dan aku kakak dari adik2 ku
menasehatinya bila ia salah langkah

aku menjadi pendosa
atas setiap ke salahan ku

tapi aku bukan
kekasihmu
atas segala
perasaan mu.....

GADIS WILAYAH BARAT

kepada gadis wilayah barat
kita telh menjadi dua kapal yang berbeda arah laju
keganasan ombak dan badai tak mampu ku hadapi
sedangkan engkau tak pernah sedikit pun angkat bicara tuk
memanggil ku

sekarang waktu tak berarti lagi
kita kehilangan segalanya

kau mentari naik sedangkan aku
begitu jauh dari mu

HARGA MATI

kesalahan ku
adalah harga mati
yang tak terbayarkan

aku tak banyak
membela diri ku
yang menjadi terdakwa
hanya pasrah
pada semua tuntutan mu

desakan-desakan
bahkan cacian
ku dengar
dari bibir
yang ku puja
bagai terkena
bencana
dengar cakap mu itu

harga mati
yang kau beri
harus ku terima
dengan pasrah

AKULAH PECUNDANG

ku bertaruh
berjuang pada
hal yang
menurut ku
percuma

ku sesali tiap
yeyes peluh
dan tiap
urai air mata
yang terbuang
percuma
untuk cinta
yang sia-sia

ku bangga-banggakan
kekalahan ku
agar orang lekas tau
aku pecundang
yang kalah sebelum
perang
yang mundur teratur

akulah pecundang

MELATI BUKAN SAKURA

diri mu bagaikan
bunga sakura
di musim semi
di tunggu sepanjang tahun
kau mekar hanya
sebentar saja
menyapa ku
dan hilang lagi

tak bisakah kau seperti
melati.....
walau tak seindah sakura
dia tumbuh sepanjang musim
dan menyapak\ ku
setiap pagi

melati bukan sakura

tapi tak mungkin
ku paksa....
kau pergi entah..
kemana

API YANG SUCI

api yang suci
membakar
jiwa yang kotor
di mana pendosa
di nerakalah tempat
pembasuhnya

api yang suci
menerangi
di puncak gunung
tertinggi
kau kan dapati
sinar yang berpijar
dialah sang fajar
menyinari tanpa henti

api yang suci
ku miliki
dalam kasih yang
ku beri
dalam iman ku do'akan
agar tak padam
dan terlupakan
membara di ruang hati

BILA INI BUNGA

bila ini bunga
terima dan cium harumnya

bila ini cincin permata
pasang di jari manis mu

tapi ini hanya
sebuah puisi
goresan yang tercipta
dari hati
coretan-coretan
yang melukiskan
besarnya kasih

ini bukan bunga
juga bukan cincin permata

ini hanya sebentuk puisi
kasih yang ku beri

BERI AKU KARUNIA

diri ku kotoran
dunia ini
yang rendah
bercampur tanah

akulah penyakit
menjijikan
hingga kau pun
meludahi ku
penuh hina

kau cabik-cabik aku
dengan kediaman mu
yang menyiksa

akulah bangkai
berbentuk manusia
penuh luka
sayatan siksa

akulah mahluk
penuh cela
kutukan-kutukan
tertuju pada ku

pandangilah aku
penuh hina
jika tak mampu
berilah aku karunia..

mati...

SYAIR KEPADA KEKASIH

melangkah pelan
tapi pasti
dengan telanjang kaki
gerakan mu
aggun menghampiri
hampir saja tak kulihat
dari mana
arah datang mu
tapi sinar
di mata mu
menyilaukan ku

kau ulurkan tangan
ku balas denggan
genggaman
yang terasa hanggat
menyentuh
tulang ku
yang hampir membeku

janggan bicara
lewat sorot mata mu
aku sudah tau
menaklukan gelombang
waktu

UNTUK NOEL

ku beri semua
dengan setulusnya
sedangkan engkau
menerimanya
dengan tangan
menggenggam
hingga yang ku
berikan
jatuh berserakan
pecah remuk
terinjak
rata dengan tanah

sekarang tak seperti
kemarin noel
musim berganti
lampu kota ku
nyala dan mati

kedermawanan ku
kau anggap
kesombongan
yang bagi mu hina

sedangkan
kebaikan ku
kau anggap aku
berpamrih

NYANYIAN MASALAH

yang rata dengan tanah
tak tinggi
atau pun rendah
yang mengendap beku
seputih salju
diri ku

pecahan tangis
kering sudah

yang penuh masalah
sampai malam tiba
hingga
di mimpinya
ia bertemu
dengan masalahnya
yang lalu
yang terus
berfikir keras
di hatinya selalu cemas
jawaban bukan
pada dirinya
yang sukar
tapi pada
hati yang pasrah

yang tak tertulis
hati ku kaku

NYANYIAN SEORANG PEMBUNUH

ku asah pisau ku...
hari ini adalah hari yang cerah
hariyang indah untuk mati..
tunggu...jangan
berfikir aku kan bunuh diri...kawan
aku tidak sepengecut itu

tapi hari ini
akan ku koyak tubuh
seseorang wanita..
ini adalah pembunuhan
berencana
namanya tak penting..
jadi tak usah kutulis..

bersiaplah kau
lonceng kematian
telah berdenting
maut sudah menunggu mu
di depan pintu
rumah mu
yang bercat biru
di sana akan berubah merah
di guyur darah segar mu

kau takan sempat berterak
meminta tolong
karna aku telah mengasah pisau ku
dengan sangat tajam
dengan sekali tikam kau akan roboh
dan kau takan mungkin
menuntut balas atas kematian mu
karna jiwa mu
tlah terseret keneraka

darah mu berhamburan
mengotori teras rumah mu
dan aku pulang
dengan puas

WANITA TUA

kau beri
aku sesuap nasi
dari tangan mu
yang penuh berkah

kau mungkin bukan
yang mengandung ku
tapi kasih sayang mu
melebihinya
hingga rasa takut ku
menjadi manja

tapi kata mu
meresap ke dalam hati
hingga aku tak tega
melihat sedih mu

wanita tua

aku menyayangi mu

TENTANG WANITA

wanita menyimpan
sejuta tanya bagi ku
dialah misteri
di antara misteri
di dunia ini
yang belum terpecahkan

wanita mahluk yang
manja dan sempurna
di mana segala cela
ku rasa tidak ada
bila jiwa di hatinya
sama mulianya dengan
paras cantiknya

wanita wngkaulah mahluk
yang aku puja
tercipta dari tulang
rusuk pria,
kaulah yang
melengkapi hidup
hilangkan sepi

kau pelita
dikala semua cahaya sirna

AKU MILIKMU


INTRO A E A E C#m B A E

Verse 1:
A E A
Terdengar lirih bisikanmu, diantara bayang-bayangmu
E C#m
Terucap kata cinta, yang dulu tersimpan
B A E
Dan tak mau pergi ...

Verse 2:
A E A
Sekejap cinta yang terjalin, dari sebuah cerita
E C#m
Yang tak mungkin terlupa, terukir di hati
B A
Dan tak mau pergi ...

Bridge:
F#m G# A B
Mungkinkah kumiliki, cinta seperti ini lagi
F#m G# A B
Jangan biarkan aku, kehilangan dirimu

Reff:
E A C#m
Coba dengarkanlah sumpahku (janji suci), dari hati ..
D
Aku cinta kamu
E A C#m
Jangan dengar kata mereka, yang tak ingin kita satu
D A D A
Yakinkan aku milikmu .. aku milikmu

Verse 3:
A E A
Jalinan cinta tulus suci, terpadu terikat erat
E C#m
Jangan terpisah lagi, waktu kan menguji
B A
Cinta kita berdua ...

Selimut Hati

Intro: F Am Bb C

F Am Bb C F Am Bb
Aku kan menjadi malam-malammu
C F Am Bb
kan menjadi mimpi-mimpimu
C
dan selimuti hatimu yang layu

F Am Bb C
aku kan menjadi bintang-bintangmu
kan slalu menyinarimu
dan membasuh rasa rindumu yang pilu

Reff:
Am Dm Bb C
aku bisa
untuk menjadi apa yang kau impikan
untuk menjadi apa yang kau impikan
tapi ku tak bisa menjadi dirinya

F Am Bb C
aku kan menjadi embun pagimu
yang kan slalu menyinarimu
dan membasuh rasa rindumu
yang beku

Aku disini untukmu


E C
Melayang kau cari - cari arti
E C
Yang pasti takkan kau temui
E C
Tak perlu kau nilai - nilai semua
E C
Biarlah semua adanya

E C
Kau coba meraba - raba hati
E C
Warna gejolak disini
E C
Alirkan semua rahasia
E C
Taburkan dalam suasana

Reff :
E Bm
Tak usah kau cari makna Hadirnya diriku
F#m A
Aku disini untukmu
E Bm
Mungkin memberi arti cinta Pada diriku
F#m A
Aku disini untukmu

E C
Tak usah kau tanya-tanya lagi
E C
Coba kau hayati peranmu
E C
Lupakan sekilas esok hari
E C
Semua telah terjadi

B A
Aku dan dirimu Tenggelam dalam asa
G#m F#
Dan tak ingin lari Tanggalkan rasa ini
B A
Cobalah entaskan Pastikan lepas atau terus
G#m A
Semoga perih terbang tinggi diawan
Back to Reff :

E Bm
Lepaskan sejenak berat beban dipundakmu
F#m A
Aku disini untukmu
E Bm
Pastikan kau jawab semua ragu dicintamu
F#m A
Aku disini untukmu
Back to Reff :

E C
Kau coba meraba - raba hati
E C
Warna gejolak disini
E c
Alirkan semua rahasia
E C
Taburkan dalam suasana...

Tak Selamanya Selingkuh Itu Indah - Merpati band

Intro : F Am A# Am

Dm A#
betapa ku mengerti sebagai selingkuhanmu
Gm C
kuharus menjalani ikatan yang tersembunyi
Dm A#
ku mencoba bertahan meskipun menyakitkan
Gm A# C
tak menyisakan sebuah sesal di hatiku

Dm A#
selama aku bisa membuatmu bahagia
Gm C
berpaling ku tak mungkin singgahi hati yang lain
Dm A#
sebatas harapanku mohon pengertianmu
Gm A# C
bahwa ku ingin memilikimu seutuhnya

Reff I :
F Am
seiring berlalu bergulirnya waktu
A#m C
membuka rahasia di antara kita
Am Dm
pastinya kan ada hati yang terluka
Gm A# C
tak menerima semua kenyataan yang ada

Dm A#
namun tak selayaknya perselingkuhan ini
Gm C
yang lama kulalui menjadi tiada berarti
Dm A#
semenjak ku merasa harapmu sia-sia
Gm A# C
hingga terluka hati kan membuatmu tak berdaya

Reff II :
F Am
mungkin kurelakan untuk kau tinggalkan
A#m C
diriku disini harus mengakhiri
Am Dm
aku yang merasa lelah dan menyerah
Gm A# A#m
karena tak selamanya selingkuh itu indah

C Gm A
biar kan cerita kita berpisah adanya
Dm Gm A# A
bila memang kita tak mungkin bersama selamanya

Int : F Am A#m C
Am Dm Gm A# A#m

Back to : Reff I and Reff II

Dm A#
betapa ku mengerti sebagai selingkuhanmu
Gm A#m
kuharus menjalani ikatan yang tersembunyi

Merpati Band - Sendiri Dulu

Intro : Dm C Gm A

Dm C
Sekilas terbayang masa yang indah silam
Gm Dm
Menyentuh tulus direlung hati terdalam
A Dm
Kehilafan telah usai aku sesali
E A
Menjadi harapan tiada pasti
Dm C
Pernah kucoba tuk memutuskan kembali
Gm Dm
Membuka pintu maaf yang lama tertutupi
A Dm
Keadaan ini enggan berikan jalan
Gm A Dm
Apa yang kurasa kini telah percuma

Reff I:
C F
Sepertinya aku harus terbiasa
Gm A D
Mengisi hariku tanpa kehadiranmu
C F
Kini hatiku kan berhenti mengharapkan
Gm A#m
Memaksa aku harus terima satu kenyataan
F
Sendiri dulu,.,

Dm C
Sementara aku membatasi pikirku
Gm Dm
Tak mengingat lagi masa yang telah lalu
A Dm
Semakin ku mengenang hati semakin terluka
Gm A Dm
Seribu sesal terbesit menyisakan lara,.,

Reff II :
C F
Kehampaan hati perih ku rasakan
Gm A Dm
Semenjak ku memutuskan meninggalkanmu
C F
Apa daya semua ini telah terjadi
Gm A#m
Akhirnya ku bisa merelakanmu dan biarkan ku
F
sendiri dulu,.,

Interlude : Dm Gm C A Dm G A Dm
Balik ke Reff I,

D Am
Kehampaan hati perih ku rasakan
B Em
Semenjak ku memutuskan meninggalkanmu
D G
Apa daya semua ini telah terjadi
Am Cm
Akhirnya ku bisa merelakanmu dan biarkan ku
G
sendiri dulu,.,

Coda : B Em D Em D C B Em

Senin, 03 Mei 2010

Kotak - Sebelum Ku Kembali kord dan lirik



Intro : B

C# D#m
Terjaga
B C# D#m
Ku diujung pagi
B C# D#m
Bawa ku
B C# G#m
Nikmati indah duniawi
B C# D#m
Sendiri
B C# D#m
Bertanya dihati
B C# D#m
Akankah
B C# G#m
Semuanya akan abadi

F# B D#m C#
Ku pejamkan sejenak mataku
F# B D#m C# A# B
Ku buka hatiku sebelum ku kembali untukmu

B C# D#m
Ku yakini
B C# D#m
Nikmat yang kau beri
B C# D#m
Segalanya
B C# G#m
Padamu kan kembali

F# B D#m C#
Ku pejamkan sejenak mataku
F# B D#m C#
Ku buka hatiku sebelum ku kembali
F# B D#m C#
Ku pejamkan sejenak mataku
F# B D#m C# A# B
Ku buka hatiku sebelum ku kembali untukmu

Kamis, 29 April 2010

NASIHAT JIWAKU

Jiwaku berkata padaku dan menasihatiku agar mencintai semua orang yang
membenciku,
Dan berteman dengan mereka yang memfitnahku.
Jiwaku menasihatiku dan mengungkapkan kepadaku bahawa cinta tidak hanya
menghargai orang yang mencintai, tetapi juga orang yang dicintai.
Sejak saat itu bagiku cinta ibarat jaring lelabah di antara dua bunga, dekat
satu sama lain; Tapi kini dia menjadi suatu lingkaran cahaya di sekelilingmatahari yang tiada berawal pun tiada berakhir, Melingkari semua yang ada,
dan bertambah secara kekal.
Jiwaku menasihatiku dan mengajarku agar melihat kecantikan yang ada di
sebalik bentuk dan warna.
Jiwaku memintaku untuk menatap semua yang buruk dengan tabah sampai
nampaklah keelokannya.
Sesungguhnya sebelum jiwaku meminta dan menasihatiku,
Aku melihat keindahan seperti titik api yang tergulung asap;
tapi sekarang asap itu telah tersebar dan menghilang, dan aku hanya melihat
api yang membakar.
Jiwaku menasihatiku dan memintaku untuk mendengar suara yang keluar
bukan dari lidah maupun dari tenggorokan.
Sebelumnya aku hanya mendengar teriakan dan jeritan di telingaku yang
bodoh dan sia-sia.
Tapi sekarang aku belajar mendengar keheningan,
Yang bergema dan melantunkan lagu dari zaman ke zaman.
Menyanyikan nada langit, dan menyingkap tabir rahsia keabadiaan..
Jiwaku berkata padaku dan menasihatiku agar memuaskan kehausanku dengan
meminum anggur yang tak dituangkan ke dalam cangkir-cangkir,
Yang belum terangkat oleh tangan, dan tak tersentuh oleh bibir
Hingga hari itu kehausanku seperti nyala redup yang terkubur dalam abu.
Tertiup angin dingin dari musim-musim bunga;
Tapi sekarang kerinduan menjadi cangkirku,
Cinta menjadi anggurku, dan kesendirian adalah kebahagianku.
Jiwaku menasihatiku dan memintaku mencari yang tak dapat dilihat;
Dan jiwaku menyingkapkan kepadaku bahwa apa yang kita sentuh adalah apa
yang kita impikan.
Jiwaku mengatakan padaku dan mengundangku untuk menghirup harum
tumbuhan yang tak memiliki akar, tangkai maupun bunga, dan yang tak pernah
dapat dilihat mata.Sebelum jiwaku menasihati, aku mencari bau harum dalam kebun-kebun,
Dalam botol minyak wangi tumbuhan-tumbuhan dan bejana dupa; Tapi
sekarang aku menyedari hanya pada dupa yang tak dibakar,
Aku mencium udara lebih harum dari semua kebun-kebun di dunia ini dan
semua angin di angkasa raya.
Jiwaku menasihatiku dan memintaku agar tidak merasa mulia
kerana pujian
Dan agar tidak disusahkan oleh ketakutan kerana cacian.
Sampai hari ini aku berasa ragu akan nilai pekerjaanku;
Tapi sekarang aku belajar;
Bahawa pohon berbunga di musim bunga, dan berbuah di musim panas
Dan menggugurkan daun-daunnya di musim gugur untuk menjadi benar-benar
telanjang di musim dingin.
Tanpa merasa mulia dan tanpa ketakutan atau tanpa rasa malu.
Jiwaku menasihatiku dan meyakinkanku
Bahawa aku tak lebih tinggi berbanding cebol ataupun tak lebih rendah
berbanding raksasa.
Sebelumnya aku melihat manusia ada dua,
Seorang yang lemah yang aku caci atau kukasihani,
Dan seorang yang kuat yang kuikuti, maupun yang kulawan
dalam pemberontakan.
Tapi sekarang aku tahu bahwa aku bahkan dibentuk oleh tanah
yang sama darimana semua manusia diciptakan.
Bahwa unsur-unsurku adalah unsur-unsur mereka, dan pengembaraan mereka
adalah juga milikku.
Bila mereka melanggar aku juga pelanggar,
Dan bila mereka berbuat baik, maka aku juga bersama perbuatan baik
mereka.
Bila mereka bangkit, aku juga bangkit bersama mereka;
Bila mereka tinggal di belakang, aku juga menemani mereka.
Jiwaku menasihatiku dan memerintahku untuk melihat bahawa cahaya yang
kubawa bukanlah cahayaku,Bahawa laguku tidak diciptakan dalam diriku;
Kerana meski aku berjalan dengan cahaya, aku bukanlah cahaya,
Dan meskipun aku bermain kecapi yang diikat kemas oleh dawai-dawaiku,
Aku bukanlah pemain kecapi.
Jiwaku menasihatiku dan mengingatkanku untuk mengukur waktu dengan
perkataan ini: "Di sana ada hari semalam dan di sana ada hari esok." Pada saat
itu aku menganggap masa lampau sebuah zaman yang lenyap dan akan
dilupakan, Dan masa depan kuanggap suatu masa yang tak bisa kucapai;
Tapi kini aku terdidik perkara ini : Bahawa dalam keseluruhan waktu masa kini
yang singkat, serta semua yang ada dalam waktu, Harus diraih sampai dapat.
Jiwaku menasihatiku, saudaraku, dan menerangiku.
Dan seringkali jiwamu menasihati dan menerangimu.
Kerana engkau seperti diriku, dan tak ada beza di antara kita.
Kusimpan apa yang kukatakan dalam diriku ini dalam kata-kata yang kudengar
dalam heningku,
Dan engkau jagalah apa yang ada di dalam dirimu, dan engkau adalah penjaga
yang sama baiknya seperti yang kukatakan ini.
Khalil Gibran

SETITIS AIRMATA DAN SEULAS SENYUMAN

Takkan kutukar dukacita hatiku demi kebahagiaan khalayak. Dan, takkan
kutumpahkan air mata kesedihan yang mengalir dari tiap bahagian diriku
berubah menjadi gelak tawa. Kuingin diriku tetaplah setitis air mata dan
seulas senyuman.
Setitis airmata yang menyucikan hatiku dan memberiku pemahaman rahsia
kehidupan dan hal ehwal yang tersembunyi. Seulas senyuman menarikku dekat
kepada putera kesayanganku dan menjelma sebuah lambang pemujaan kepada
tuhan.
Setitis airmata meyatukanku dengan mereka yang patah hati; Seulas senyum
menjadi sebuah tanda kebahagiaanku dalam kewujudan.
Aku merasa lebih baik jika aku mati dalam hasrat dan kerinduan berbanding
jika aku hidup menjemukan dan putus asa.
Aku bersedia kelaparan demi cinta dan keindahan yang ada di dasar jiwakusetelah kusaksikan mereka yang dimanjakan amat menyusahkan orang. Telah
kudengar keluhan mereka dalam hasrat kerinduan dan itu lebih manis
daripada melodi yang termanis.
Ketika malam tiba bunga menguncupkan kelopak dan tidur, memeluk
kerinduannya. tatkala pagi menghampiri, ia membuka bibirnya demi
menyambut ciuman matahari.
Kehidupan sekuntum bunga sama dengan kerinduan dan pengabulan. Setitis
airmata dan seulas senyuman.
Air laut menjadi wap dan naik menjelma menjadi segumpal mega. Awan
terapung di atas pergunungan dan lembah ngarai hingga berjumpa angin sepoi
bahasa, jatuh bercucuran ke padang-padang lalu bergabung bersama aliran
sungai dan kembali ke laut, rumahnya.
Kehidupan awan-gemawan itu adalah sesuatu perpisahan dan pertemuan. Bagai
setitis airmata seulas senyuman. Dan, kemudian jiwa jadi terpisahkan dari
jiwa yang lebih besar, bergerak di dunia zat melintas bagai segumpal mega
diatas pergunungan dukacita dan dataran kebahagiaan.
Menuju samudera cinta dan keindahan - kepada Tuhan.
Khalil Gibran

7 ALASAN MENCELA DIRI

Tujuh kali aku pernah mencela jiwaku,
pertama kali ketika aku melihatnya lemah,Ketiga kali ketika berhadapan dengan pilihan yang sulit dan mudah
ia memilih yang mudah
Keempat kalinya, ketika ia melakukan kesalahan dan cuba menghibur diri
dengan mengatakan bahawa semua orang juga melakukan kesalahan
Kelima kali, ia menghindar kerana takut, lalu mengatakannya sebagai sabar
Keenam kali, ketika ia mengejek kepada seraut wajah buruk
padahal ia tahu, bahawa wajah itu adalah salah satu topeng yang sering ia
pakai
Dan ketujuh, ketika ia menyanyikan lagu pujian dan menganggap itu sebagai
suatu yang bermanfaat
Kahlil Gibran
padahal seharusnya ia bisa kuat.
Kedua kali ketika melihatnya berjalan terjongket-jongket
dihadapan orang yang lumpuh

ANTARA PAGI DAN MALAM HARI

TENANGLAH hatiku, kerana langit tak pun mendengari
Tenanglah, kerana bumi dibebani dengan ratapan kesedihan.
Dia takkan melahirkan melodi dan nyanyianmu.
Tenanglah, kerana roh-roh malam tak menghiraukan bisikan rahsiamu, dan
bayang-bayang tak berhenti dihadapan mimpi-mimpi.
Tenanglah, hatiku. Tenanglah hingga fajar tiba, kerana dia yang menanti pagi
dengan sabar akan menyambut pagi dengan kekuatan. Dia yang mencintai
cahaya, dicintai cahaya.
Tenanglah hatiku, dan dengarkan ucapanku.
DALAM mimpi aku melihat seekor murai menyanyi saat dia terbang di atas
kawah gunung berapi yang meletus.
Kulihat sekuntum bunga Lili menyembulkan kelopaknya di balik salju.
Kulihat seorang bidadari telanjang menari-menari di antara batu-batu kubur.
Kulihat seorang anak tertawa sambil bermain dengan tengkorak-tengkorak.
Kulihat semua makhluk ini dalam sebuah mimpi. Ketika aku terjaga dan
memandang sekelilingku, kulihat gunung berapi memuntahkan nyala api, tapi
tak kudengar murai bernyanyi, juga tak kulihat dia terbang.
Kulihat langit menaburkan salju di atas padang dan lembah, dilapisi warna
putih mayat dari bunga lili yang membeku.
Kulihat kuburan-kuburan, berderet-deret, tegak di hadapan zaman-zaman
yang tenang. Tapi tak satu pun kulihat di sana yang bergoyang dalam tarian,
juga tidak yang tertunduk dalam doa.
Saat terjaga, kulihat kesedihan dan kepedihan; ke manakah perginya
kegembiraan dan kesenangan impian?
Mengapa keindahan mimpi lenyap, dan bagaimana gambaran-gambarannya
menghilang? Bagaimana mungkin jiwa tertahan sampai sang tidur membawa
kembali roh-roh dari hasrat dan harapannya?
DENGARLAH hatiku, dan dengarlah ucapanku.
Semalam jiwaku adalah sebatang pohon yang kukuh dan tua, menghunjam
akar-akarnya ke dasar bumi dan cabang-cabangnya mencekau ke arah yang
tak terhingga.
Jiwaku berbunga di musim bunga, memikul buah pada musim panas. Pada
musim gugur kukumpulkan buahnya di mangkuk perak dan kuletakkannya di
tengah jalan. Orang-orang yang lalu lalang mengambil dan memakannya, serta
meneruskan perjalanan mereka.
KALA musim gugur berlalu dan gita pujinya bertukar menjadi lagu kematian
dan ratapan, kudapati semua orang telah meninggalkan diriku kecuali satusatunya
buah di talam perak.
Kuambil ia dan memakannya, dan merasakan pahitnya bagai kayu gaharu,
masam bak anggur hijau.
Aku berbicara dalam hati,"Bencana bagiku, kerana telah kutempatkan
sebentuk laknat di dalam mulut orang-orang itu, dan permusuhan dalam
perutnya.
" Apa yang telah kaulakukan, jiwaku, dengan kemanisan akar-akarmu itu yang
telah meresap dari usus besar bumi, dengan wangian daun-daunmu yang telah
meneguk cahaya matahari?"
Lalu kucabut pohon jiwaku yang kukuh dan tua.
Kucabut akarnya dari tanah liat yang di dalamnya dia telah bertunas dan
tumbuh dengan subur. Kucabut akar dari masa lampaunya, menanggalkan
kenangan seribu musim bunga dan seribu musim gugur.
Dan kutanam sekali lagi pohon jiwaku di tempat lain.
Kutanam dia di padang yang tempatnya jauh dari jalan-jalan waktu.
Kulewatkan malam dengan terjaga di sisinya, sambil berkata,"Mengamatibersama malam yang membawa kita mendekati kerlipan bintang."
Aku memberinya minum dengan darah dan airmataku, sambil
berkata,"Terdapat sebentuk keharuman dalam darah, dan dalam airmata
sebentuk kemanisan."
Tatkala musim bunga tiba, jiwaku berbunga sekali lagi.
PADA musim panas jiwaku menyandang buah. Tatkala musim gugur tiba,
kukumpulkan buah-buahnya yang matang di talam emas dan kuletakkan di
tengah jalan. Orang-orang melintas, satu demi satu atau dalam kelompokkelompok,
tapi tak satu pun menghulurkan tangannya untuk mengambil
bahagiannya.
Lalu kuambil sebuah dan memakannya, merasakan manisnya bagai madu
pilihan, lazat seperti musim bunga dari syurga, sangat menyenangkan laksana
anggur Babylon, wangi bak wangi-wangian dari melati.
Aku menjerit,"Orang-orang tak menginginkan rahmat pada mulutnya atau
kebenaran dalam usus mereka, kerana rahmat adalah puteri airmata dan
kebenaran putera darah!"
Lalu aku beralih dan duduk di bawah bayangan pohon sunyi jiwaku di sebuah
padang yang tempatnya jauh dari jalan waktu.
TENANGLAH, hatiku, hingga fajar tiba.
Tenanglah, kerana langit menghembus bau hamis kematian dan tak bisa
meminum nafasmu.
Dengarkan, hatiku, dan dengarkan aku bicara.
Semalam fikiranku adalah kapal yang terumbang-ambing oleh gelombang laut
dan digerakkan oleh angin dari pantai ke pantai
Kapal fikiranku kosong kecuali untuk tujuh cawan yang dilimpahi dengan
warna-warna, gemilang berwarna-warni.
Sang waktu datang kala aku merasa jemu terapung-apungan di atas
permukaan laut dan berkata,
"Aku akan kembali ke kapal kosong fikiranku menuju pelabuhan kota tempat
aku dilahirkan."
Tatkala kerjaku selesai, kapal fikiranku
Aku mulai mengecat sisi-sisi kapalku dengan warna-warni - kuning matahari
terbenam, hijau musim bunga baru, biru kubah langit, merah senjakala yang
menjadi kecil. Pada layar dan kemudinya kuukirkan susuk-susuk menakjubkan,
menyenangkan mata dan menyenangkan penglihatan.
Tatkala kerjaku selesai, kapal fikiranku laksana pandangan luas seorang nabi,berputar dalam ketidakterbatasan laut dan langit. Kumasuki pelabuhan
kotaku, dan orang muncul menemuiku dengan pujian dan rasa terima kasih.
Mereka membawaku ke dalam kota, memukul gendang dan meniup seruling.
Ini mereka lakukan kerana bahagian luar kapalku yang dihias dengan
cemerlang, tapi tak seorang pun masuk ke dalam kapal fikiranku.
Tak seorang pun bertanya apakah yang kubawa dari seberang lautan
Tak seorang pun tahu kenapa aku kembali dengan kapal kosongku ke
pelabuhan.
Lalu kepada diriku sendiri, aku berkata,"Aku telah menyesatkan orang-orang,
dan dengan tujuh cawan warna telah kudustai mata mereka"
Setelah setahun aku menaiki kapal fikiranku dan kulayari di laut untuk kedua
kalinya.
Aku berlayar menuju pulau-pulau timur, dan mengisi kapalku dengan dupa dan
kemenyan, pohon gaharu dan kayu cendana.
Aku berlayar menuju pulau-pulau barat, dan membawa bijih emas dan gading,
batu merah delima dan zamrud, dan sulaman serta pakaian warna merah
lembayung.
Dari pulau-pulau selatan aku kembali dengan rantai dan pedang tajam,
tombak-tombak panjang, serta beraneka jenis senjata.
Aku mengisi kapal fikiranku dengan harta benda dan barang-barang lhasil
bumi dan kembali ke pelabuhan kotaku, sambil berkata, "Orang-orangku pasti
akan memujiku, memang sudah pastinya. Mereka akan menggendongku ke
dalam kota sambil menyanyi dan meniup trompet"
Tapi ketika aku tiba di pelabuhan, tak seorangpun keluar menemuiku. Ketika
kumasuki jalan-jalan kota, tak seorang pun memerhatikan diriku.
Aku berdiri di alun-alun sambil mengutuk pada orang-orang bahawa aku
membawa buah dan kekayaan bumi. Mereka memandangku, mulutnya penuh
tawa, cemuhan pada wajah mereka. Lalu mereka berpaling dariku.
Aku kembali ke pelabuhan, kesal dan bingung. Tak lama kemudian aku melihat
kapalku. Maka aku melihat perjuangan dan harapan dari perjalananku yang
menghalangi perhatianku. Aku menjerit.
Gelombang laut telah mencuri cat dari sisi-sisi kapalku, tak meninggalkan apa
pun kecuali tulang belulang yang bertaburan.
Angin, badai dan terik matahari telah menghapus lukisan-lukisan dari layar,
memudarkan ia seperti pakaian berwarna kelabu dan usang.
Kukumpulkan barang-barang hasil dan kekayaan bumi ke dalam sebuah perahu
yang terapung di atas permukaan air. Aku kembali ke orang-orangku, tapimereka menolak diriku kerana mata mereka hanya melihat bahagian luar.
Pada saat itu kutinggalkan kapal fikiranku dan pergi ke kota kematian. Aku
duduk di antara kuburan-kuburan yang bercat kapur, merenungkan rahsiarahsianya.
TENANGLAH, hatiku, hingga fajar tiba.
Tenanglah, meskipun prahara yang mengamuk mencerca bisikan-bisikan
batinmu, dan gua-gua lembah takkan menggemakan bunyi suaramu.
Tenanglah, hatiku, hingga fajar tiba. Kerana dia yang menantikan dengan
sabar hingga fajar, pagi hari akan memeluknya dengan semangat.
NUN di sana! Fajar merekah, hatiku. Bicaralah, jika kau mampu bicara!
Itulah arak-arakan sang fajar, hatiku! Akankah hening malam melumpuhkan
kedalaman hatimu yang menyanyi menyambut fajar?
Lihatlah kawanan merpati dan burung murai melayang di atas lembah.
Akankah kengerian malam menghalangi engkau untuk menduduki sayap
bersama mereka?
Para pengembala memandu kawanan dombanya dari tempat ternak dan
kandang.
Akankah roh-roh malam menghalangimu untuk mengikuti mereka ke padang
rumput hijau?
Anak lelaki dan perempuan bergegas menuju kebun anggur. Kenapa kau tak
berganjak dan berjalan bersama mereka?
Bangkitlah, hatiku, bangkit dan berjalan bersama fajar, kerana malam telah
berlalu. Ketakutan malam lenyap bersama mimpi gelapnya.
Bangkitlah, hatiku, dan lantangkan suaramu dalam nyanyian, kerana hanya
anak-anak kegelapan yang gagal menyatu ke dalam nyanyian sang fajar.
Khalil Gibran

SEMALAM

Semalam aku sendirian di dunia ini, kekasih;
dan kesendirianku... sebengis kematian...
Semalam diriku adalah sepatah kata yang tak bersuara...,
Di dalam fikiran malam.
Hari ini... aku menjelma menjadi sebuah nyanyian menyenangkan di atas lidah
hari.
Dan, ia berlangsung dalam seminit dari sang waktu yang melahirkan sekilas
pandang, sepatah kata, sebuah desakan dan... sekucup ciuman
Khalil Gibran

KEHIDUPAN SEBUAH CINTA

MUSIM BUNGA

Marilah, sayang, mari berjalan menjelajahi perbukitan,
Salju telah cair dan Kehidupan telah terjaga dari lenanya
dan kini mengembara menyusuri pegunungan dan lembah-lembah,
Mari kita ikut jejak-jejak Musim Bunga, yang melangkaui
Ladang-ladang jauh, dan mendaki puncak-puncak perbukitan
'Tuk menadah ilham dari aras ketinggian,
Di atas hamparan ngarai nan sejuk kehijauan.
Fajar Musim Bunga telah mengeluarkan pakaiannya
dari lipatan simpanan, dan menyangkutnya
pada pohon pic dan sitrus , dan mereka kelihatan bagai pengantin dalam
upacara tradisi Malam Kedre..
Sulur-sulur daun anggur saling berpelukan bagai kekasih
Air kali pun lincah berlompatan menari ria,
Di sela-sela batuan, menyanyikan lagu riang.
Dan bunga-bunga bermekaran dari jantung alam,
Laksana buih-buih bersemburan, dari kalbu lautan
Kemarilah, sayang: mari meneguk sisa air mata
musim dingin, dari gelas kelopak bunga lili,
Dan menenangkan jiwa, dengan gerimis nada-nada
Curahan simfoni burung-burung yang berkicauan
dan berkelana riang dalam bayu mengasyikkan
Mari duduk di batu besar itu, tempat bunga violet
berteduh dalam persembunyian, dan meniru
Kemanisan mereka dalam pertukaran kasih rindu.

MUSIM PANAS

Mari pergi ke ladang, kekasihku, kerana
Musim menuai telah tiba, dan cahaya suria
Telah memanggang gandum kuning-kekuningan.Mari kita mengerjakan hasil bumi, sebagaimana semangat kegembiraan
menyuburkan butir gandum
Dari benih cinta-kasih, yang tertanam dalam sanubari.
Mari mengisi guni kita dengan limpahan hasil bumi
bagai kehidupan mengisi penuh rongga hati,
Dengan harta kekayaan tak terperi,
Mari, jadikan bunga-bunga alas tilam kita
Dan langit biru selimut kita
Sandarkan kepala di bantal harum jerami,
Mari kita berehat setelah bekerja sepanjang hari,
Sambil mendengar bisik gemercik air sungai yang menyanyi.

MUSIM GUGUR

kita pergi memetik anggur di perkebunan
Dan memerah sari buah segar
Dan menyimpannya di jambangan tua
Sebagaimana jiwa menyimpan ilmu pengetahuan
Abad-abad lalu, dalam gedung keabadian.
Dan sekarang mari pulang, kerna sang bayu telah
Menerbangkan daun-daun kuning dan mengisar bunga-bunga layu
Yang membisikkan dendang kematian pada Musim Gugur
Mari pulang, kekasihku abadi, kerana burung-burung
Telah terbang bagi perjalanan migrasi menuju kehangatan
Meninggalkan padang yang dingin dan kesepian.
Bunga mirtel dan melati pun telah lama
Mengeringkan air matanya.
Mari kembali, sebab anak sungai yang sayu
Telah kehabisan lagu, dan sumber air yang lincah
Telah membisu, enggan mengucapkan kata perpisahan.
Sedang bukit-bukit tua telah mulai melipat
pakaiannya yang berwarna-warni.
Mari, kekasihku; Alam telah letih,
Ia bersemangat melambaikan selamat tinggal
Dengan dendangan sayup dan ketenangan.

MUSIM DINGIN

Dekatlah ke mari,oh teman sepanjang hidupku,
Dekatlah padaku, dan jangan biarkan sentuhan Musim Dingin,
Mencelah di antara kita. Duduklah disampingku di depan tungku,
Sebab nyalaan api adalah satu-satunya nyawa musim ini.
Bicaralah padaku tentang kekayaan hatimu,
Yang jauh lebih besar daripada unsur Alam yang menggelodak
Di luar pintu.
Palanglah pintu dan patri engselnya,
Sebab wajah angkasa menekan semangatku
Dan pemandangan ladang-ladang salju
Menimbulkan tangis dalam jiwaku.
Tuangkan minyak ke dalam lampu, jangan biarkan ia pudar,
Letakkan dekat wajahmu, supaya aku boleh membaca dalam tangis
Apa yang telah ditulis pada wajahmu
Tentang kehidupan kau bersamaku..
Berilah aku anggur Musim Gugur, dan mari minum bersama
Sambil mendendangkan lagu kenangan pada ghairah Musim Bunga
Dan layanan hangat Musim Panas, serta anugerah
tuaian dari Musim Gugur.
Dekatlah padaku, oh kekasih jiwaku; api mendingin dalam tungku,
Menyelinap padam nyalanya satu-satu, dari timbunan abu
Dakaplah aku, sebab aku ngeri akan kesepian.
Lampu meredup, dan anggur minuman membuat mata sayu mengatup.
Mari kita saling berpandangan, sebelum mata tertutup.
Cari aku dengan rabaan, temui daku dalam pelukan
Lalu biarkan kabus malam merangkul jiwa kita menjadi satu
Kucuplah aku, kekasihku, kerana Musim Dingin,
Telah merenggut segala, kecuali bibir yang berkata:
Engkau dalam dakapan, oh Kekasihku Abadi,
Betapa dalam dan kuat samudera lena,
Dan betapa cepatnya subuh...(Dari 'Dam'ah Wa Ibtisamah' -Setitis Air Mata Seulas Senyuman)
Khalil Gibran

SURAT DARI KEKASIH

Untukmu yang selalu Kucintai,
Saat kau bangun di pagi hari, Aku memandangmu dan
berharap engkau akan berbicara kepadaKu., bercerita,
meminta pendapatKu, mengucapkan sesuatu untukKu
walaupun hanya sepatah kata.
Atau berterima kasih kepadaKu atas sesuatu hal yang
indah yang terjadi dalam hidupmu pada tadi malam, kemarin, atau waktu yang
lalu....
Tetapi Aku melihat engkau begitu sibuk mempersiapkan diri untuk pergi
bekerja...
Tak sedikitpun kau menyedari Aku di dekat mu.
Aku kembali menanti saat engkau sedang bersiap,
Aku tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhenti dan menyapaKu,
tetapi engkau terlalu sibuk...
Di satu tempat, engkau duduk tanpa melakukan apapun.
Kemudian Aku melihat engkau menggerakkan kakimu.
Aku berfikir engkau akan datang kepadaKu, tetapi engkau
berlari ke telefon dan menelefon seorang teman untuk sekadar berbual-bual.
Aku melihatmu ketika engkau pergi bekerja dan Aku
menanti dengan sabar sepanjang hari. Namun dengan
semua kegiatanmu Aku berfikir engkau terlalu sibuk
untuk mengucapkan sesuatu kepadaKu.
Sebelum makan siang Aku melihatmu memandang ke
sekeliling, mungkin engkau merasa malu untuk berbicara
kepadaKu, itulah sebabnya mengapa engkau tidak
sedikitpun menyapaKu.
Engkau memandang tiga atau empat meja sekitarmu dan
melihat beberapa temanmu berbicara dan menyebut namaKu
dengan lembut sebelum menjamah makanan yang kuberikan,
tetapi engkau tidak melakukannya.....
Ya, tidak mengapa, masih ada waktu yang tersisa dan
Aku masih berharap engkau akan datang kepadaKu,
meskipun saat engkau pulang ke rumah kelihatannya
seakan-akan banyak hal yang harus kau kerjakan.
Setelah tugasmu selesai, engkau menghidupkan TV, Aku
tidak tahu apakah kau suka menonton TV atau tidak,
hanya engkau selalu ke sana dan menghabiskan banyak
waktu setiap hari di depannya, tanpa memikirkan apapun
dan hanya menikmati siaran yang ditampilkan, hingga waktuwaktu
untukKu dilupakan.
Kembali Aku menanti dengan sabar saat engkau menikmati
makananmu tetapi kembali engkau lupa menyebut namaKudan berterima kasih atas makanan yang telah Kuberikan.
Saat tidur Kufikir kau merasa terlalu lelah.
Setelah mengucapkan selamat malam kepada keluargamu,
kau melompat ke tempat tidurmu dan tertidur tanpa
sepatahpun namaKu kau sebut. Tidak mengapa kerana mungkin
engkau masih belum menyedari bahawa Aku selalu hadir untukmu.
Aku telah bersabar lebih lama dari yang kau sedari.
Aku bahkan ingin mengajarkan bagaimana bersabar terhadap orang lain. Aku
sangat menyayangimu, setiap hari Aku menantikan sepatah kata darimu,
ungkapan isi hatimu, namun tak kunjung tiba.
Baiklah..... engkau bangun kembali dan kembali Aku
menanti dengan penuh kasih bahawa hari ini kau akan
memberiKu sedikit waktu untuk menyapaKu...
Tapi yang Kutunggu ... ah tak juga kau menyapaKu.
Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, Isya dan Subuh lagi
kau masih tidak mempedulikan Aku.
Tak ada sepatah kata, tak ada seucap doa, tak ada
pula harapan dan keinginan untuk sujud kepadaKU....
Apakah salahKu padamu ...? Rezeki yang Kulimpahkan,
kesihatan yang Kuberikan, Harta yang Kurelakan, makanan
yang Kuhidangkan , Keselamatan yang Kukurniakan,
kebahagiaan yang Kuanugerahkan, apakah hal itu tidak
membuatmu ingat kepadaKu ???
Percayalah, Aku selalu mengasihimu, dan Aku tetap
berharap suatu saat engkau akan menyapaKu, memohon
perlindunganKu, bersujud menghadapKu ... Kembali kepadaKu.
Yang selalu bersamamu setiap saat,
Tuhanmu....
Khalil Gibran

MASA MUDA DAN KEINDAHAN

Keindahan menjadi milik usia muda, tapi keremajaan yang untuknya dunia ini
diciptakan tidak lebih dari sekadar mimpi yang manisnya diperhamba oleh
kebutaan yang menghilangkan kesedaran.
Akankah hari itu datang, ketika orang-orang bijak menyatukan kemanisan
masa muda dan kenikmatan pengetahuan?
Sebab masing-masing hanyalah kosong bila hanya sendirian.
Akankah hari itu datang ketika alam menjadi guru yang mengajar manusia,
dan kemanusiaan menjadi buku bacaan
sedangkan kehidupan adalah sekolah sehari-hari?
Hasrat masa muda akan kesenangan-kenikmatan tidak terlalu menuntut
tanggung jawab -hanya akan terpenuhi bila fajar telah menyelak kegelapan
hari.
Banyak lelaki yang tenggelam dalam keasyikan hari-hari masa muda yang mati
dan beku;
banyak perempuan yang menyesali dan mengutuk tahun-tahun tak berguna
mereka seperti raungan singa betina yang kehilangan anak;
dan banyak para pemuda dan pemudi yang menggunakan hati mereka sekadar
sebagai alat penggali kenangan pahit masa depan,
melukai diri melalui kebodohan dengan anak panah yang tajam dan beracun
kerana kehilangan kebahagiaan.
Usia tua adalah permukaan kulit bumi;
ia harus, melalui cahaya dan kebenaran,
memberikan kehangatan bagi benih-benih masa muda yang
ada dibawahnya, melindungi dan memenuhi keperluan mereka
hingga Nisan datang dan menyempurnakan kehidupan masa muda yang sedang
tumbuh dengan kebangkitan baru
Kita berjalan terlalu lambat ke arah kebangkitan spiritual,
dan perjalanan itu seluas angkasa tanpa batas,
sebagai pemahaman keindahan kewujudan melalui
rasa kasih dan cinta kepada keindahan tersebut
Khalil Gibran

NYANYIAN HUJAN

Aku ini percikan benang-benang perak yang dihamburkan dari syurga oleh
dewa-dewa.
Alam raya kemudian meraupku, bagi menyirami ladang dan lembahnya.
Aku ini taburan mutiara, yang dipetik dari mahkota Raja Ishtar, oleh puteri
Fajar,
untuk menghiasi taman-taman mayapada.
Pabila kuurai air mata, bukit-bukit tertawa;
Pabila aku meniup rendah, bunga-bunga gembira,
Dan bila aku menunduk, segalanya cerah-ceria.
Ladang dan awan mega berkasih-mesra,
Di antara mereka aku pembawa amanat setia,
Yang satu kulepas dari dahaga,
Yang lain kuubati dari luka.
Suara guruh mengkhabarkan kedatanganku
Pelangi di langit menghantar pemergianku,
Bagai kehidupan duniawi, diriku,
Dimulakan pada kaki kekuatan alam,
Dan diakhiri di bawah sayap kematian.
Aku muncul dari dalam jantung samudera,
Melayang tinggi bersama pawana,
Pabila kulihat ladang memerlukanku,
Aku turun, kubelai mesra bunga-bunga dan pepohonan
Dalam berjuta cara.
Jemariku lembut bermain pada jendela-jendela kaca
Dan berita yang kubawa membawa bahagia,
Semua orang dapat mendengarnya, namun hanya yang peka,
Dapat memahami maknanya.
Panas udara melahirkan aku,
Namun sebagai balasannya aku membunuhnya,
Laksana wanita yang mengungguli jejaka,
Dengan kekuatan yang dihisap daripadanya.
Diriku helaan nafas samudera
Gelak tertawa padang ladang,
Dan cucuran air mata dari syurga.
Maka, disertai cinta kasih -
dihela dari kedalaman laut kasih-sayang;
tertawa ria dari rona padang jiwa,
air mata dari kenangan syurga abadi.
(Dari 'Dam'ah Wa Ibtisamah' -Setitis Air Mata Seulas Senyuman)
Khalil Gibran

NYANYIAN SUKMA

Di dasar relung jiwaku
Bergema nyanyian tanpa kata; sebuah lagu
yang bernafas di dalam benih hatiku,
Yang tiada dicairkan oleh tinta di atas lembar kulit ; ia meneguk rasa kasihku
dalam jubah yg nipis kainnya, dan mengalirkan sayang,
Namun bukan menyentuh bibirku.
Betapa dapat aku mendesahkannya?
Aku bimbang dia mungkin berbaur dengan kerajaan fana
Kepada siapa aku akan menyanyikannya?
Dia tersimpan dalam relung sukmaku
Kerna aku risau, dia akan terhempas
Di telinga pendengaran yang keras.Pabila kutatap penglihatan batinku
Nampak di dalamnya bayangan dari bayangannya,
Dan pabila kusentuh hujung jemariku
Terasa getaran kehadirannya.
Perilaku tanganku saksi bisu kehadirannya,
Bagai danau tenang yang memantulkan cahaya
bintang-bintang bergemerlapan.
Air mataku menandai sendu
Bagai titik-titik embun syahdu
Yang membongkarkan rahsia mawar layu.
Lagu itu digubah oleh renungan,
Dan dikumandangkan oleh kesunyian,
Dan disingkiri oleh kebisingan,
Dan dilipat oleh kebenaran,
Dan diulang-ulang oleh mimpi dan bayangan,
Dan difahami oleh cinta,
Dan disembunyikan oleh kesedaran siang
Dan dinyanyikan oleh sukma malam.
Lagu itu lagu kasih-sayang,
Gerangan 'Cain' atau 'Esau' manakah
Yang mampu membawakannya berkumandang?
Nyanyian itu lebih semerbak wangi daripada melati:
Suara manakah yang dapat menangkapnya?
Kidung itu tersembunyi bagai rahsia perawan suci,
Getar nada mana yang mampu menggoyahnya?
Siapa berani menyatukan debur ombak samudra
dengan kicau bening burung malam?
Siapa yang berani membandingkan deru alam,
Dengan desah bayi yang nyenyak di buaian?
Siapa berani memecah sunyi
Dan lantang menuturkan bisikan sanubariYang hanya terungkap oleh hati?
Insan mana yang berani
melagukan kidung suci Tuhan?
(Dari 'Dam'ah Wa Ibtisamah' -Setitis Air Mata Seulas Senyuman)
Khalil Gibran

FIKIRAN DAN SAMADI

Hidup menjemput dan melantunkan kita dari satu tempat ke tempat yang lain;
Nasib memindahkan kita dari satu tahap ke tahap yang lain. Dan kita yang
diburu oleh keduanya, hanya mendengar suara yang mengerikan, dan hanya
melihat susuk yang menghalangi dan merintangi jalan kita.
Keindahan menghadirkan dirinya dengan duduk di atas singgahsana keagungan;
tapi kami mendekatinya atas dorongan Nafsu ; merenggut mahkota
kesuciannya, dan mengotori busananya dengan tindak laku durhaka.
Cinta lalu di depan kita, berjubahkan kelembutan ; tapi kita lari ketakutan,
atau bersembunyi dalam kegelapan, atau ada pula yang malahan mengikutinya,
untuk berbuat kejahatan atas namanya.
Meskipun orang yang paling bijaksana terbongkok kerana memikul beban
Cinta, tapi sebenarnya beban itu seiringan bayu pawana Lebanon yang
berpuput riang.
Kebebasan mengundang kita pada mejanya agar kita menikmati makanan lazat
dan anggurnya ; tapi bila kita telah duduk menghadapinya, kita pun makan
dengan lahap dan rakus.
Tangan Alam menyambut hangat kedatangan kita, dan menawarkan pula agar
kita menikmati keindahannya ; tapi kita takut akan keheningannya, lalu
bergegas lari ke kota yang ramai, berhimpit-himpitan seperti kawanan
kambing yang lari ketakutan dari serigala garang.
Kebenaran memanggil-manggil kita di antara tawa anak-anak atau ciuman
kekasih, tapi kita menutup pintu keramahan baginya, dan menghadapinya
bagaikan musuh.
Hati manusia menyeru pertolongan ; jiwa manusia memohon pembebasan ; tapi
kita tidak mendengar teriak mereka, kerana kita tidak membuka telinga dan
berniat memahaminya. Namun orang yang mendengar dan memahaminya kita
sebut gila lalu kita tinggalkan.
Malampun berlalu, hidup kita lelah dan kurang waspada, sedang hari pun
memberi salam dan merangkul kita. Tapi di siang dan malam hari, kita sentiasa
ketakutan.
Kita amat terikat pada bumi, sedangkan gerbang Tuhan terbuka lebar. Kita
memijak-mijak roti Kehidupan, sedangkan kelaparan memamah hati kita.
Sungguh betapa budiman Sang Hidup terhadap Manusia, namun betapa jauh
Manusia meninggalkan Sang Hidup.
Khalil Gibran

WAKTU

Dan seorang pakar astronomi berkata, "Guru, bagaimanakah perihal Waktu?"
Dan dia menjawab:
Kau ingin mengukur waktu yang tanpa ukuran dan tak terukur.
Engkau akan menyesuaikan tingkah lakumu dan bahkan mengarahkan
perjalanan jiwamu menurut jam dan musim.
Suatu ketika kau ingin membuat anak sungai, di mana atas tebingnya kau akan
duduk dan menyaksikan alirannya.
Namun keabadian di dalam dirimu adalah kesedaran akan kehidupan nan abadi,
Dan mengetahui bahawa semalam hanyalah kenangan utk hari ini dan esok
adalah harapan dan impian utk hari ini.
Dan yang menyanyi dan merenung dari dalam jiwa, sentiasa menghuni ruang
semesta yang menaburkan bintang di angkasa.
Siapa di antara kalian yang tidak merasa bahawa daya mencintainya tiada
batasnya?
Dan siapa pula yang tidak merasa bahawa cinta sejati, walau tiada batas,
terkandung di dalam inti dirinya, dan tiada bergerak dari fikiran cinta ke
fikiran cinta, pun bukan dari tindakan cinta ke tindakan cinta yang lain?
Dan bukanlah sang waktu sebagaimana cinta, tiada terbahagi dan tiada kenal
ruang?
Tapi jika di dalam fikiranmu baru mengukur waktu ke dalam musim, biarkanlah
tiap musim merangkumi semua musim yang lain,
Dan biarkanlah hari ini memeluk masa silam dengan kenangan dan masa depan
dengan kerinduan.
Khalil Gibran

BANGSA KASIHAN

Kasihan bangsa yang memakai pakaian yang tidak ditenunnya,
memakan roti dari gandum yang tidak dituainya
dan meminum anggur yang tidak diperasnya
Kasihan bangsa yang menjadikan orang bodoh menjadi pahlawan,
dan menganggap penindasan penjajah sebagai hadiah.
Kasihan bangsa yang meremehkan nafsu dalam mimpi-mimpinya ketika tidur,
sementara menyerah padanya ketika bangun.
Kasihan bangsa yang tidak pernah angkat suara
kecuali jika sedang berjalan di atas kuburan,
tidak sesumbar kecuali di runtuhan,
dan tidak memberontak kecuali ketika lehernya
sudah berada di antara pedang dan landasan.
Kasihan bangsa yang negarawannya serigala,
falsafahnya karung nasi,
dan senimannya tukang tambal dan tukang tiru.
Kasihan bangsa yang menyambut penguasa barunya
dengan trompet kehormatan namun melepasnya dengan cacian,
hanya untuk menyambut penguasa baru lain dengan trompet lagi.
Kasihan bangsa yang orang sucinya dungu
menghitung tahun-tahun berlalu
dan orang kuatnya masih dalam gendongan.
Kasihan bangsa yang berpecah-belah,
dan masing-masing mengangap dirinya sebagai satu bangsa.
Khalil Gibran

PERJAMUAN JIWA

BANGUNLAH, Cintaku. Bangun! Kerana jiwaku mengalu-alumu dari dasar laut,
dan menawarkan padamu sayap-sayap di atas gelombang yang mengamuk
Bangunlah, kerana sunyi telah menghentikan derap kaki kuda dan langkah para
pejalan kaki.
Rasa kantuk telah memeluk roh setiap laki-laki, sementara aku terbangun
sendiri, rasa rindu membukakan kertas surat tidurku.
Cinta membawaku dekat denganmu, namun kebimbangan melemparkan diriku
menjauh darimu.
Aku telah membuang bukuku, kerana keluhku mengunci kata-kata dan desah
nafasku meninggalkan tempat tidurku, Cintaku, kerana takut pada hantu lupa
yang berada di balik selimut.
Aku telah membuang bukuku, kerana keluhku mengunci kata-kata dan desah
nafasku meninggalkan halaman buku yang kosong di depan mataku!
Bangun, bangunlah, Cintaku dan dengar diriku!
Aku mendengarkanmu, Cintaku! Aku mendengar panggilanmu dari lautan lepas
dan merasakan lembutnya sentuhan sayapmu. Aku telah jauh dari ranjangku,
beranjak ke tanah lapang, hingga embun membasahi kaki dan bajuku. Di sinilah
aku berdiri, dibawah bunga-bunga pohon badam, memenuhi panggilan jiwamu.
Bicaralah padaku, Cintaku, dan biarkan nafasmu menghirup angin gunung yang
datang padaku dari lembah-lembah Lebanon. Bicaralah. Tak ada yang akan
mendengar selain diriku. Malam telah melarutkan semua manusia ditempat
tidurnya.
Syurga telah menyulam cahaya rembulan dan menghamparkannya ke seluruh
daratan Lebanon, Cintaku.
Syurga telah meriasnya dengan bayangan malam, jubah tebal membentang
dihembus asap dari cerobong kain, dihembus nafas kemari, dan mengelarnya
di telapak kota, Cintaku.
Para penduduk telah pulas menganyam mimpi di ubun-ubunnya di tengah
pohon-pohon kenari. Jiwa mereka mempercepatkan langkah mengejar negeri
mimpi, Cintaku.
Lelaki-lelaki longlai menggendong emas, dan tebing curam yang akan dilalui
melemaskan lutut mereka. Mata mereka mengantuk kerana dililit kesulitan
dan ketakutan. Mereka melemparkan tubuh ke tempat tidur sebagai tempat
berlindung dari hantu-hantu yang menakutkan dan mengerikan, Cintaku.
Hantu-hantu dari masa lalu berkeliaran di lembah-lembah. Jiwa para raja
melintasi bukit-bukit. Fikiranku yang berhias kenangan menyingkap kekuatan
bangsa Chaldea, kemegahan Arab.
Di lorong-lorong gelap, jiwa-jiwa pencuri yang tegap berjalan, muncungmuncung
nafsu ular berbisa muncul dari celah-celah benteng, dan rasa sakit
berdengung kematian, muntah-muntah sepanjang jalan. Kenangan menyingkap
tabir kelupaan dari mataku dan nampaklah Sodom yang menjijikkan, serta
dosa-dosa Gomorah.
Ranting-ranting berayun-ayun, Cintaku, dan desirnya bertemu dengan alunan
anak sungai di lembah. Syair-syair Sulaiman, nada kecapi Daud dan lagu Ishak
Al-Mausaili terngiang-ngiang di telinga kami.
Jiwa anak-anak yang lapar di penginapan menggelupur, ibunya mengeluh diatas kamar kesedihan, dan kekecewaan telah jatuh dari langit. Mimpi-mimpi
kebimbangan melanda hati yang lemah. Aku mendengar rintihan pahitnya.
Semerbak bunga melambai seiring nafas pohon-pohon cedar. Terbawa angin
sepoi-sepoi menuju perbukitan, harum itu mengisi jiwa dengan kasih sayang
dan meniupkan kerinduan untuk terbang.
Tetapi racun dari rawa-rawa jug berkelana mengepul bersama penyakit.
Seperti panah rahsia yang tajam, racun itu telah menembusi perasaan dan
meracuni udara.
Tanpa kusedari matahari telah mengilaukan cahaya pagi, Cintaku, dan jari-jari
timur yang lentik menimang mata-mata orang yang terlelap. Cahaya itu
memaksa mereka untuk membuka daun jendela dan menyelak hati dan
kemenangan. Desa-desa, yang sedang tertidur dalam damai dan tenang di
pundak-pundak lembah, bangun, loceng-loceng berdenting memenuhi angkasa
sebagai panggilan untuk mula berdoa. Dan dari gua-gua, gema-gema juga
berdengung, seolah-olah seluruh alam sedang berdoa bersama-sama dengan
khusyuknya. Anak-anak sapi telah keluar dari kandangnya, biri-biri dan
kambing meninggalkan bangsalnya untuk menuai rumput yang berembun dan
berkilatan cahaya. Penggembalanya mengikuti dari belakang sambil
mengamatinya di balik lelalang. Di belakangnya lagi gadis-gadis bernyanyi
seperti burung menyambut pagi.
Kini tangan siang hari yang perkasa terbaring di atas kota. Tirai telah diselak
dari jendela dan pintu pun terbuka. Mata yang penat dan wajah lesu para
penjahit telah siap di tempat kerjanya. Mereka merasakan kematian telah
melanggar batas kehidupan mereka, dan riak muka yang layu mempamerkan
ketakutan dan kekecewaan. Di jalanan padat dengan jiwa-jiwa yang tamak dan
tergesa-gesa, dan di mana-mana terdengar desingan besi, pusingan roda dan
siulan angin. Kota telah menjadi arena pertempuran di mana yang kuat
menindas yang lemah dan si kaya mengeksploitasi dan menguasai si miskin.
Betapa indah hidup ini, Cintaku, seperti hati penyair yang penuh dengan
cahaya dan kelembutan hati.
Dan betapa kerasnya hidup ini, Cintaku, seperti dada penjahat, yang
berdebar-debar kerana selalu merasa bimbang dan takut.
Khalil Gibran

RAHSIA JODOH

Berpasangan engkau telah diciptakan
Dan selamanya engkau akan berpasangan
Bergandingan tanganlah dikau
Hingga sayap-sayap panjang nan lebar lebur dalam nyala
Dalam ikatan agung menyatu kalian
Saling menataplah dalam keharmonian
Dan bukanlah hanya saling menatap ke depan
Tapi bagaimana melangkah ke tujuan semula
Berpasangan engkau dalam mengurai kebersamaan
Kerana tidak ada yang benar-benar mampu hidup bersendirian
Bahkan keindahan syurga tak mampu menghapus kesepian Adam
Berpasangan engkau dalam menghimpun rahmat Tuhan Ya, bahkan bersama
pula dalam menikmatinya
Kerana alam dan kurniaan Tuhan
Terlampau luas untuk dinikmati sendirian
Bersamalah engkau dalam setiap keadaan
Kerana kebahagiaan tersedia, bagi mereka yang menangis
Bagi mereka yang disakiti hatinya, bagi mereka yang mencari,
bagi mereka yang mencuba
Dan bagi mereka yang mampu memahami erti hidup bersama
Kerana mereka itulah yang menghargai pentingnya
orang-orang yang pernah hadir dalam kehidupan mereka
Bersamalah dikau sampai sayap-sayap sang maut meliputimu
Ya, bahkan bersama pula kalian dalam musim sunyi
Namun biarkan ada ruang antara kebersamaan itu
Tempat angin syurga menari-nari diantara bahtera sakinahmu
Berkasih-kasihlah, namun jangan membelenggu cinta
Biarkan cinta mengalir dalam setiap titisan darah
Bagai mata air kehidupan
Yang gemerciknya senantiasa menghidupi pantai kedua jiwaSaling isilah minumanmu tapi jangan minum dari satu piala
Saling kongsilah rotimu tapi jangan makan dari pinggan yang sama..
Menyanyilah dan menarilah bersama dalam suka dan duka
Hanya biarkan masing-masing menghayati waktu sendirinya
Kerana dawai-dawai biola, masing-masing punya kehidupan sendiri
Walau lagu yang sama sedang menggetarkannya
Sebab itulah simfoni kehidupan
Berikan hatimu namun jangan saling menguasainya
Jika tidak, kalian hanya mencintai pantulan diri sendiri
Yang kalian temukan dalam dia
Dan lagi, hanya tangan kehidupan yang akan mampu merangkulnya
Tegaklah berjajar namun jangan terlampau dekat
Bukankah tiang-tiang candi tidak dibina terlalu rapat?
Dan pohon jati serta pohon cemara
Tidak tumbuh dalam bayangan masing-masing?
Khalil Gibran

CINTA (III)

Kelmarin aku berdiri berdekatan pintu gerbang sebuah rumah ibadat dan
bertanya kepada manusia yang lalu-lalang di situ tentang misteri dan kesucian
cinta.
Seorang lelaki setengah baya menghampiri, tubuhnya rapuh wajahnya gelap.
Sambil mengeluh dia berkata, "Cinta telah membuat suatu kekuatan menjadi
lemah, aku mewarisinya dari Manusia Pertama."
Seorang pemuda dengan tubuh kuat dan besar menghampiri. Dengan suara
bagai menyanyi dia berkata, "Cinta adalah sebuah ketetapan hati yang
ditumbuhkan dariku, yang rnenghubungkan masa sekarang dengan generasi
masa lalu dan generasi yang akan datang.'
Seorang wanita dengan wajah melankolis menghampiri dan sambil mendesah,
dia berkata, 'Cinta adalah racun pembunuh, ular hitam berbisa yang
menderita di neraka, terbang melayang dan berputar-putar menembusi langit
sampai ia jatuh tertutup embun, ia hanya akan diminum oleh roh-roh yang
haus. Kemudian mereka akan mabuk untuk beberapa saat, diam selama satu
tahun dan mati untuk selamanya.'
Seorang gadis dengan pipi kemerahan menghampiri dan dengan tersenyum dia
berkata, "Cinta itu laksana air pancuran yang digunakan roh pengantin sebagai
siraman ke dalam roh orang-orang yg kuat, membuat mereka bangkit dalam
doa di antara bintang-bintang di malam hari dan senandung pujian di depan
matahari di siang hari.'
Setelah itu seorang lelaki menghampiri. Bajunya hitam, janggutnya panjang
dengan dahi berkerut, dia berkata, "Cinta adalah ketidakpedulian yang buta.
la bermula dari hujung masa muda dan berakhir pada pangkal masa muda.'
Seorang lelaki tampan dengan wajah bersinar dan dengan bahagia berkata,
'Cinta adalah pengetahuan syurgawi yang menyalakan mata kita. Ia
menunjukkan segala sesuatu kepada kita seperti para dewa melihatnya.'
Seorang bermata buta menghampiri, sambil mengetuk-ngetukkan tongkatnya
ke tanah dan dia kemudian berkata sambil menangis, 'Cinta adalah kabus
tebal yang menyelubungi gambaran sesuatu darinya atau yang membuatnya
hanya melihat hantu dari nafsunya yang berkelana di antara batu karang, tuli
terhadap suara-suara dari tangisnya sendiri yang bergema di lembahlembah.'
Seorang pemuda, dengan membawa sebuah gitar menghampiri dan menyanyi,
'Cinta adalah cahaya ghaib yang bersinar dari kedalaman kehidupan yang peka
dan mencerahkan segala yang ada di sekitarnya. Engkau bisa melihat dunia
bagai sebuah perarakan yang berjalan melewati padang rumput hijau.
Kehidupan adalah bagai sebuah mimpi indah yang diangkat dari kesedaran dan
kesedaran.'
Seorang lelaki dengan badan bongkok dan kakinya bengkok bagai potonganpotongan
kain menghampiri. Dengan suara bergetar, dia berkata, "Cinta
adalah istirahat panjang bagi raga di dalam kesunyian makam, kedamaian bagi
jiwa dalam kedalaman keabadian.’
Seorang anak kecil berumur lima tahun menghampiri dan sambil tertawa dia
berkata, "Cinta adalah ayahku, cinta adalah ibuku. Hanya ayah dan ibuku yang
mengerti tentang cinta."
Waktu terus berjalan. Manusia terus-menerus melewati rumah ibadat.
Masing-masing mempunyai pandangannya tersendiri tentang cinta. Semua
menyatakan harapan-harapannya dan mengungkapkan misteri-misteri
kehidupannya.
Khalil Gibran

CINTA (II)

Mereka berkata tentang serigala dan tikus
Minum di sungai yang sama
Di mana singa melepas dahaga
Mereka berkata tentang helang dan hering
Menjunam paruhnya ke dalam bangkai yg sama
Dan berdamai - di antara satu sama lain,
Dalam kehadiran bangkai - bangkai mati itu
Oh Cinta, yang tangan lembutnya
mengekang keinginanku
Meluapkan rasa lapar dan dahaga
akan maruah dan kebanggaan,
Jangan biarkan nafsu kuat terus menggangguku
Memakan roti dan meminum anggur
Menggoda diriku yang lemah ini
Biarkan rasa lapar menggigitku,
Biarkan rasa haus membakarku,
Biarkan aku mati dan binasa,
Sebelum kuangkat tanganku
Untuk cangkir yang tidak kau isi,
Dan mangkuk yang tidak kau berkati
(Dari 'The Forerunner))
Kahlil Gibran

CINTA (I)

Lalu berkatalah Almitra, Bicaralah pada kami perihal Cinta.
Dan dia mengangkatkan kepalanya dan memandang ke arah kumpulan manusia
itu, dan keheningan menguasai mereka. Dan dengan suara lantang dia berkata:
Pabila cinta memberi isyarat kepadamu, ikutilah dia,
Walau jalannya sukar dan curam.
Dan pabila sayapnya memelukmu menyerahlah kepadanya.
Walau pedang tersembunyi di antara hujung-hujung sayapnya bisa melukaimu.
Dan kalau dia berbicara padamu percayalah padanya.
Walau suaranya bisa menggetar mimpi-mimpimu bagai angin utara
membinasakan taman.
Kerana sebagaimana cinta memahkotai engkau, demikian pula dia akan
menghukummu.Sebagaimana dia ada untuk menyuburkanmu, demikian pula dia ada untuk
mencantasmu.
Sebagaimana dia mendaki ke puncakmu dan membelai mesra ranting-ranting
lembutmu yang bergetar dalam cahaya matahari.
Demikian pula dia akan menghunjam ke akarmu dan menggegarkannya di dalam
pautanmu pada bumi.
Laksana selonggok jagung dia menghimpun engkau pada dirinya.
Dia menghempuk engkau hingga kau telanjang
Dia mengasing-asingkan kau demi membebaskan engkau dari kulitmu.
Dia menggosok-gosok engkau sampai putih bersih.
Dia meramas engkau hingga kau menjadi lembut;
Dan kemudian dia mengangkat engkau ke api sucinya sehingga engkau bisa
menjadi hidangan suci untuk pesta kudus Tuhan.
Semua ini akan ditunaikan padamu oleh Sang Cinta, supaya bisa kau fahami
rahsia hatimu, dan di dalam pemahaman dia menjadi sekeping hati Kehidupan.
Namun pabila dalam ketakutanmu kau hanya akan mencari kedamaian dan
kenikmatan cinta.
Maka lebih baiklah bagimu untuk menutupi tubuhmu dan melangkah keluar
dari lantai-penebah cinta.
Memasuki dunia tanpa musim tempat kau dapat tertawa, tapi tak seluruh
gelak tawamu, dan menangis, tapi tak sehabis semua airmatamu.
Cinta tak memberikan apa-apa kecuali dirinya sendiri dan tiada mengambil
apa-apa pun kecuali dari dirinya sendiri.
Cinta tiada memiliki, pun tiada ingin dimiliki;
Kerana cinta telah cukup bagi cinta.
Pabila kau mencintai kau takkan berkata, "Tuhan ada di dalam hatiku," tapi
sebaliknya, "Aku berada di dalam hati Tuhan."
Dan jangan mengira kaudapat mengarahkan jalannya Cinta, sebab cinta, pabila
dia menilaimu memang pantas, mengarahkan jalanmu.
Cinta tak menginginkan yang lain kecuali memenuhi dirinya. Namun pabila kau
mencintai dan memerlukan keghairahan, biarlah ini menjadi keghairahanmu:
Luluhkan dirimu dan mengalirlah bagaikan anak sungai, yang menyanyikan
alunannnya bagai sang malam.
Kenalilah penderitaan dari kelembutan yang begitu jauh.
Rasa dilukai akibat pemahamanmu sendiri tentang cinta;
Dan menitiskan darah dengan ikhlas dan gembira.
Terjaga di kala fajar dengan hati berawangan dan mensyukuri hari baru
penuh cahaya kasih;
Istirah di kala siang dan merenungkan kegembiraan cinta yang meluap-luap;
Kembali ke rumah di kala senja dengan rasa syukur;
Dan kemudian tidur bersama doa bagi kekasih di dalam hatimu dan sekuntum
nyanyian puji-pujian pada bibirmu.
(Dari 'Sang Nabi')
Khalil Gibran

ALAM & MANUSIA

Aku mendengar anak sungai merintih bagai seorang janda yang menangis
meratapi kematian anaknya dan aku kemudian bertanya, "Mengapa engkau
menangis, sungaiku yang jernih?' Dan sungai itu menjawab, 'Sebab aku
dipaksa mengalir ke kota tempat Manusia merendahkan dan mensia-siakan
diriku dan menjadikanku minuman-minuman keras dan mereka
memperalatkanku bagai pembersih sampah, meracuni kemurnianku dan
mengubah sifat-sifatku yang baik menjadi sifat-sifat buruk."
Dan aku mendengar burung-burung menangis, dan aku bertanya, "Mengapa
engkau menangis, burung-burungku yang cantik?"
Dan salah satu dari burung itu terbang mendekatiku, dan hinggap di hujung
sebuah cabang pohon dan berkata, "Anak-anak Adam akan segera datang di
ladang ini dengan membawa senjata-senjata pembunuh dan menyerang kami
seolah-olah kami adalah musuhnya. Kami sekarang terpisah di antara satu
sama yang lain, sebab kami tidak tahu siapa di antara kami yang bisa selamat
dari kejahatan Manusia. Ajal memburu kami ke mana pun kami pergi."
Kini, matahari terbit dari balik puncak pergunungan, dan menyinari puncakpuncak
pepohonan dengan rona mahkota. Kupandangi keindahan ini dan aku
bertanya kepada diriku sendiri, 'Mengapa Manusia mesti menghancurkan
segala karya yang telah diciptakan oleh alam?'
Khalil Gibran

DUA KEINGINAN

Di keheningan malam, Sang Maut turun atas hadrat Tuhan menuju ke bumi. Ia
terbang melayang-layang di atas sebuah kota dan mengamati seluruh penghuni
dengan tatapan matanya. Ia menyaksikan jiwa-jiwa yang melayang-layang
dengan sayap-sayap mereka, dan orang-orang yang terlena di dalam kekuasaan
Sang Lelap.
Ketika rembulan tersungkur di kaki langit, dan kota itu berubah warna
menjadi hitam kepekatan, Sang Maut berjalan dengan langkah tenang di
celah-celah kediaman - berhati-hati tidak menyentuh apa-apa pun - sehingga
tiba di sebuah istana. Ia masuk melalui pagar besi berpaku tanpa sebarang
halangan dan berdiri di sisi sebuah ranjang , dan tika ia menyentuh dahi si
lena, lelaki itu membuka kelopak matanya dan memandang dengan penuh
ketakutan.
Melihat bayangan Sang Maut di hadapannya, dia menjerit dengan suara
ketakutan bercampur aduk kemarahan, "Pergilah kau dariku, mimpi yang
mengerikan! Pergilah engkau makhluk jahat! Siapakah engkau ini? Dan
bagaimana mungkin kau memasuki istana ini? Apa yang kau inginkan?
Tinggalkan rumah ini dengan segera! Ingatlah, akulah tuan rumah ini. Nyahlah
kau, kalau tidak, kupanggil para hamba suruhanku dan para pengawalku untuk
mencincangmu menjadi kepingan!"
Kemudian Maut berkata dengan suara lembut, tapi sangat menakutkan,
"Akulah kematian, berdiri dan tunduklah padaku."
Dan si lelaki itu menjawab, "Apa yang kau inginkan dariku sekarang, dan
benda apa yang kau cari? Kenapa kau datang ketika urusanku belum selesai?
Apa yang kau inginkan dari orang kaya berkuasa seperti aku? Pergilah sana,
carilah orang-orang yang lemah, dan ambillah dia! Aku ngeri melihat taringtaringmu
yang berdarah dan wajahmu yang bengis, dan mataku sakit menatap
sayap-sayapmu yang menjijikkan dan tubuhmu yang meloyakan."
Namun selepas tersedar, dia menambah dengan ketakutan, "Tidak, tidak,
Maut yang pengampun, jangan pedulikan apa yang telah kukatakan, kerana
rasa takut membuat diriku mengucapkan kata-kata yang sesungguhnya
terlarang. Maka ambillah longgokan emasku semahumu atau nyawa salah
seorang dari hamba-hambaku, dan tinggalkanlah diriku... Aku masih
mempunyai urusan kehidupan yang belum selesai dan berhutang emas dengan
orang. Di atas laut aku memiliki kapal yang belum kembali ke pelabuhan,
permintaanku..jangan ambil nyawaku... Ambillah olehmu barang yang kau
inginkan dan tinggalkanlah daku. Aku punya perempuan simpanan yang
luarbiasa cantiknya untuk kau pilih, Kematian. Dengarlah lagi : Aku punya
seorang putera tunggal yang kusayangi, dialah sumber kegembiraan hidupku.
Kutawarkan dia juga sebagai galang ganti, tapi nyawaku jangan kau cabut dan
tinggalkan diriku sendirian."
Sang Maut itu mengeruh,"Engkau tidak kaya tapi orang miskin yang tak sedar
diri." Kemudian Maut mengambil tangan orang hina itu, mencabut nyawanya,
dan memberikannya kepada para malaikat di langit untuk menghukumnya.
Dan Maut berjalan perlahan di antara setinggan orang-orang miskin hingga ia
mencapai rumah paling daif yang ia temukan. Ia masuk dan mendekati ranjang
di mana tidur seorang pemuda dengan kelelapan yang damai. Maut menyentuh
matanya, anak muda itu pun terjaga. Dan ketika melihat Sang Maut berdiri di
sampingnya, ia berkata dengan suara penuh cinta dan harapan, "Aku di sini,
wahai Sang Maut yang cantik. Sambutlah rohku, kerana kaulah harapan
impianku. Peluklah diriku, kekasih jiwaku, kerana kau sangat penyayang dan
tak kan meninggalkan diriku di sini. Kaulah utusan Ilahi, kaulah tangan kanan
kebenaran. Bawalah daku pada Ilahi. Jangan tinggalkan daku di sini."
"Aku telah memanggil dan merayumu berulang kali, namun kau tak jua datang.
Tapi kini kau telah mendengar suaraku, kerana itu jangan kecewakan cintaku
dengan menjauhi diri. Peluklah rohku, Sang Maut yang dikasihi."
Kemudian Sang Maut meletakkan jari-jari lembutnya ke atas bibir yang
bergetar itu, mencabut nyawanya, dan menaruh roh itu di bawah perlindungan
sayap-sayapnya.
Ketika ia naik kembali ke langit, Maut menoleh ke belakang -- ke dunia - dan
dalam bisikan amaran ia berkata, "Hanya mereka di dunia yang mencari
Keabadianlah yang sampai ke Keabadian itu."
(Dari 'Dam'ah Wa Ibtisamah' -Setitis Air Mata Seulas Senyuman)
Kahlil Gibran

IBU

Ibu adalah segalanya, dialah penghibur di dalam kesedihan.
Pemberi harapan di dalam penderitaan, dan pemberi kekuatan di dalam
kelemahan.
Dialah sumber cinta, belas kasihan, simpati dan pengampunan.
Manusia yang kehilangan ibunya bererti kehilangan jiwa sejati yang memberi
berkat dan menjaganya tanpa henti.
Segala sesuatu di alam ini melukiskan tentang susuk ibu.
Matahari adalah ibu dari planet bumi yang memberikan makanannya dengan
pancaran panasnya.Matahari tak pernah meninggalkan alam semesta pada malam hari sampai
matahari meminta bumi untuk tidur sejenak di dalam nyanyian lautan dan
siulan burung-burung dan anak-anak sungai.
Dan Bumi ini adalah ibu dari pepohonan dan bunga-bunga menjadi ibu yang
baik bagi buah-buahan dan biji-bijian.
Ibu sebagai pembentuk dasar dari seluruh kewujudan dan adalah roh kekal,
penuh dengan keindahan dan cinta.
Khalil Gibran
LAGU OMBAK
Pantai yang perkasa adalah kekasihku,
Dan aku adalah kekasihnya,
Akhirnya kami dipertautkan oleh cinta,
Namun kemudian Bulan menjarakkan aku darinya.
Kupergi padanya dengan cepat
Lalu berpisah dengan berat hati.
Membisikkan selamat tinggal berulang kali.
Aku segera bergerak diam-diam
Dari balik kebiruan cakerawala
Untuk mengayunkan sinar keperakan buihku
Ke pangkuan keemasan pasirnya
Dan kami berpadu dalam adunan terindah.
Aku lepaskan kehausannya
Dan nafasku memenuhi segenap relung hatinya
Dia melembutkankan suaraku dan mereda gelora di dada.
Kala fajar tiba, kuucapkan prinsip cinta
di telinganya, dan dia memelukku penuh damba
Di terik siang kunyanyikan dia lagu harapan
Diiringi kucupan-kucupan kasih sayang
Gerakku pantas diwarnai kebimbangan
Sedangkan dia tetap sabar dan tenang.Dadanya yang bidang meneduhkan kegelisahan
Kala air pasang kami saling memeluk
Kala surut aku berlutut menjamah kakinya
Memanjatkan doa
Seribu sayang, aku selalu berjaga sendiri
Menyusut kekuatanku.
Tetapi aku pemuja cinta,
Dan kebenaran cinta itu sendiri perkasa,
Mungkin kelelahan akan menimpaku,
Namun tiada aku bakal binasa.
Khalil Gibran

DARI PETIKAN SANG NABI (THE PROPHET) PERENGGAN 12

Seorang ahli hukum menyusul bertanya;
Dan bagaimana tentang undang-undang kita?
Dijawabnya;
Kalian senang meletakkan perundangan,
namun lebih senang lagi melakukan perlanggaran,
Bagaikan kanak-kanak yang asyik bermain di tepi pantai,
yang penuh kesungguhan menyusun pasir jadi menara,
kemudian menghancurkannya sendiri,
sambil gelak tertawa ria.
Tapi,
selama kau sedang sibuk menyusun menara pasirmu,
sang laut menghantarkan lebih banyak lagi pasir ke tepi,
Dan pada ketika kau menghancurkan menara buatanmu,
sang laut pun turut tertawa bersamamu.
Sesungguhnya,
samudera sentiasa ikut tertawa,
bersama mereka yang tanpa dosa.
Tapi bagaimanakah mereka,
yang menganggap kehidupan bukan sebagai samudera,
dan melihat undang-undang buatannya sendiri,
bukan ibarat menara pasir?
Merekalah yang memandang kehidupan,
laksana sebungkal batu karang,
dan undang-undang menjadi pahatnya,
untuk memberinya bentuk ukiran,
menurut selera manusia,
sesuai hasrat kemahuan.
Bagaimana dia,
si tempang yang membenci para penari?
Bagaimana pula kerbau yang menyukai bebannya,
dam mencemuh kijang,
menamakannya haiwan liar tiada guna?
Lalu betapa ular tua,
yang tak dapat lagi menukar kulitnya,
dan kerana itu menyebut ular lain sebagai telanjang,
tak kenal susila?
Ada lagi dia,
yang pagi- pagi mendatangi pesta,
suatu keramaian perkahwinan,
kemudian setelah kenyang perutnya,
dengan badan keletihan,
meninggalkan keramaian dengan umpatan,
menyatakan semua pesta sebagai suatu kesalahan,
dan semua terlibat melakukan kesalahan belaka.
Apalah yang kukatakan tentang mereka,
kecuali bahawa memang mereka berdiri di bawah sinar mentari,
namun berpaling wajah, dan punggung mereka membelakangi?
Mereka hanya melihat bayangannya sendiri,
dan bayangan itulah menjadi undang-undangnya.
Apakah erti sang suria bagi mereka,
selain sebuah pelempar bayangan?
Dan apakah kepatuhan hukum baginya,
selain terbongkok dan melata di atas tanah,
mencari dan menyelusuri bayangan sendiri?
Tapi kau,
yang berjalan menghadapkan wajah ke arah mentari,
bayangan apa di atas tanah,
yang dapat menahanmu?
Kau yang mengembara di atas angin,
kincir mana yang mampu memerintahkan arah perjalananmu,
hukum mana yang mengikatmu,
bila kau patahkan pikulanmu,
tanpa memukulnya pada pintu penjara orang lain?
Hukum apa yang kau takuti,
jikalau kau menari-nari,
tanpa kakimu tersadung belenggu orang lain?
Dan siapakah dia yang menuntutmu,
bila kau mencampakkan pakaianmu,
tanpa melemparkannya di jalan orang lain?
Rakyat Orphalese,
kalian mungkin mampu memukul gendang,
dan kalian dapat melonggarkan tali kecapi,
namun katakan,
siapakah yang dapat menghalangi,
burung pipit untuk menyanyi.

PERENGGAN 13

Seorang ahli pidato maju ke depan;
bertanyakan masalah kebebasan.
Dia mendapat jawapan;
Telah kusaksikan,
di gerbang kota maupun dekat tungku perapian,
dikau bertekuk lutut memuja Sang Kebebasan.
Laksana hamba budak merendahkan diri di depan sang tuan,
si zalim yang disanjung puja,
walaupun dia hendak menikam.
Ya, sampaipun di relung-relung candi,
dan keteduhan pusat kota,
kulihat yang paling bebas pun diantara kalian,
mengendong kebebasannya laksana pikulan,
mengenakannya seperti besi pembelenggu tangan.
Hatiku menitikkan darah dalam dada,
kerana kutahu,
bahawa kau hanya dapat bebas sepenuhnya,
pabila kau dapat menyedari;
bahawa keinginan untuk kebebasan pun,
merupakan sebentuk belenggu jiwamu.
Hanya jikalau kau pada akhirnya,
berhenti bicara tentang Kebebasan,
sebagai suatu tujuan dan sebuah hasil perbincangan,
maka kau akan bebas,
bila hari-hari tiada kosong dari beban fikiran,
dan malam-malammu tiada sepi dari kekurangan dan kesedihan.
Bahkan justeru Kebebasanmu berada dalam rangkuman beban hidup ini,
tetapi yang berhasil engkau atasi,
dan jaya kau tegak menjulang tinggi,
sempurna, terlepas segala tali-temali.
Dan bagaimana kau kan bangkit,
mengatasi hari dan malammu,
pabila kau tak mematahkan belenggu ikatan,
yang di pagi pengalamanmu,
telah engkau kaitkan pada ketinggian tengah harimu?
Sesungguhnyalah,
apa yang kau namai Kebebasan,
tak lain dari mata terkuat diantara mata rantai belenggumu,
walau kilaunya gemerlap cemerlang di sinar suria,
serta menyilaukan pandang matamu.
Dan sedarkah engkau,
apa yang akan kau lepaskan itu?
tiada lain adalah cebisan dari dirimu,
jikalau kau hendak mencapai kebebasan yang kau rindu.
Pabila yang akan kau buang itu,
suatu hukum yang tak adil,
akuilah bahwa dia telah kau tulis dengan tanganmu sendiri,
serta kau pahatkan diatas permukaan keningmu.
Mustahil kau akan menghapusnya,
dengan hanya membakar kitab-kitab hukummu,
tak mungkin pula dengan cara membasuh kening para hakimmu,
walau air seluruh lautan kaucurahkan untuk itu.
Pabila seorang zalim yang hendak kau tumbangkan,
usahakanlah dahulu,
agar kursi tahtanya yang kau tegakkan di hatimu,
kau cabut akarnya sebelum itu.
Sebab bagaimanakah seorang zalim,
dapat memerintah orang bebas dan punya harga diri,
jika bukan engkau sendiri membiarkannya,
menodai kebebasan yang kaujunjung tinggi,
mencorengkan arang pada harkat martabat kemanusiaanmu peribadi?
Pabila suatu beban kesusahan yang hendak kautanggalkan,
maka ingatlah bahwa beban itu telah pernah menjadi pilihanmu,
bukannya telah dipaksakan diatas pundakmu.
Bilamana ketakutan yang ingin kau hilangkan,
maka perasaan ngeri itu bersarang di hatimu,
bukannya berada pada dia yang kau takuti.
Sebenarnyalah, segalanya itu bergetar dalam diri,
dalam rangkulan setengah terkatup, yang abadi;
antara;
yang kauinginkan dan yang kau takuti,
yang memuakkan dan yang kausanjung puji,
yang kaukejar-kejar dan yang hendak kau tinggal pergi.
Kesemuanya itu hadir dalam dirimu selalu,
bagaikan Sinar dan Bayangan,
dalam pasangan-pasangan,
yang lestari berpelukan.
Dan pabila sang bayangan menjadi kabur, melenyap hilang,
maka sinar yang tinggal, wujudlah bayangan baru,
bagi sinar yang lain;
demikianlah selalu.
Seperti itulah pekerti Kebebasan,
pabila ia kehilangan pengikatnya yang lama,
maka ia sendirilah menjadi pengikat baru,
bagi Kebebasan yang lebih agung,
sentiasa.
Khalil Gibran

PROSA (II)

Bila kau memberi dari hartamu, tidak banyaklah pemberian itu. Bila kau
memberi dari dirimu, itulah pemberian yang penuh erti. Sebab, apalah harta
milikan itu, pabila ia bukan simpanan yang kaujaga buat persediaan di hari
kemudian ?
Dan hari kemudian; terkandung janji apakah bagi dia, si anjing kikir, Yang
menimbun tulang-tulang di bawah pasir, Dalam perjalanan ke kota suci,
mengikuti musafir ?
Dan bukankah ketakutan akan kemiskinan, Merupakan kemiskinan itu sendiri ?
Ketakutan akan dahaga, sedangkan sumur masih penuh, Bukankah dahaga yang
tak mungkin dipuaskan ?
Ada orang yang memberi sedikit dari miliknya yang banyak Dan pemberian itu
dilakukan demi sanjungan, Hasrat tersembunyi membuat tak murni dermanya.
Ada pula yang memiliki sedikit dan memberikan segalanya. Merekalah yang
percaya akan kehidupan dan anugerah kehidupan, Dan peti mereka tiada
pernah mengalami kekosongan.
Ada yang memberi dengan kegembiraan di hati, Kegembiraanlah yang menjadi
anugerah pengganti. Ada yang memberi dengan kepedihan di hati, maka
Kepedihan menjadi air pensucian diri.
Dan ada yang memberi tanpa merasa sakit di dalamnya, Tanpa mencari
kegirangan dari pemberiannya, Tanpa mengingat-ingat kebaikannya; Mereka
memberi, sebagaimana di lembah sana, Bunga-bunga menyebarkan
wewangiannya ke udara.
Melalui mereka inilah, Tuhan berbicara, Dan dari sinar lembut tatapan mata
mereka Dia tersenyum pada dunia.
...
Sebab sesungguhnya, kehidupanlah yang memberi pada kehidupan .Sedangkan
kau, yang mengira dirimu seorang pemberi, Sebetulnya hanyalah seorang
saksi.
Dan kau, kaum penerima - ya, engkau semuanya tergolong penerima ! Jangan
memberati diri dengan rasa terhutang budi, Sebab kau akan membebani
dirimu dan dia yang memberi.
Sayugia kau bangkit bersama si pemberi, Naik sayap pemberiannya,
Melambung ke taraf yang lebih tinggi.
Terlampau menyedari hutangmu, adalah meragukan kedermawanan dia, Sang
putera Bumi yang murah hati, Dan Tuhan, sebagai sumber segala hartanya.
Khalil Gibran

PROSA (I)

Bila engkau sedang bersukaria
renunglah dalam-dalam
ke lubuk hati
disanalah nanti engkau dapati
bahwa hanya yang pernah membuat derita
berkemampuan memberimu bahagia
Jika engkau berdukacita
renunanglah lagi, ke lubuk hati
disanalah pula bakal kau temui
bahawa sesungguhnya
engkau sedang menangisi
sesuatu yang pernah
engkau syukuri
Khalil Gibran

PROSA (III)

Dan aku melihat hal-hal yang menyedihkan,
Para Malaikat Kebahagiaan tengah berperang dgn Syaitan-syaitan
Penderitaan
Dan Manusia berdiri di antara mereka.
Yang satu menariknya dengan Harapan dan yang lain dengan Keputus-asaan.
Aku melihat Cinta dan Benci bermain-main di hati manusia, Cinta
menyembunyikan kesalahan Manusia dan memabukkanya dengan anggur
kepatuhan, pujian dan rayuan: sementara Kebencian menghasutnya dan
menutup telinganya dan membutakan matanya dari Kebenaran...
Aku melihat para pemimpin mulutnya berbuih seperti serigala licik dan juri
penyelamat palsu merencanakan dan bersekongkol untuk Melawan
Kebahagiaan Manusia..
Dan aku melihat Manusia memanggil Kebijakan untuk membebaskannya, tetapi
Kebijakan tidak mendengar jeritannya, kerana Manusia pernah
Mengabaikannya ketika ia berbicara kepadanya di jalananan kota...
(Dari Suara Sang Guru)
Khalil Gibra

my self

my self